Agama

Gelar Kajian Ramadan, Muslimat NU Jember Hadirkan Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama PBNU

Jember,  Portal Jawa Timur – Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Jember Jawa Timur menggelar Kajian Ramadan di Masjid Jamik Al-Baitul Amin Jember, Ahad (16/3/2025). Kajian Ramadan yang mengusung tema Renungan Nuzulul Qur’an tersebut dihadiri oleh jajaran pengurus Muslimat NU Jember dan 26 Anak Cabang Muslimat NU Jember.

Baca Juga: Muslimat NU Jember Peringati Hari Ibu di Tengah Pengajian Rutin

Selain itu, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), Ghyta Eka Puspita juga tampak hadir di tengah-tengah acara. Istri Bupati Jember Muhammad Fawait itu, juga berkenan memberikan arahan.

Baca Juga: Perkuat Tali Silaturahmi, Muslimat NU Jember Potong 4 Hewan Kurban

Sedangkan mauidzah hasanah disampaikan oleh Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama PBNU, KH Abdullah Syamsul Arifin.

Dalam sambutannya, Ketua PC Muslimat NU Jember, Nyai Hj. Nurul Kamila Rosyidi mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an penting diperingati  untuk menumbuhkan kesadaran terhadap pengamalan Al-Qur’an sebagai landasan perjuangan Muslimat NU sesuai dengan tupoksi masing-masing.

Ketua PC Muslimat NU Jember, Nyai Hj. Nurul Kamila Rosyidi

Katanya, salah satu tupoksi kaum ibu adalah mempersiapkan lahirnya generasi bangsa. Mereka punya tanggung jawab untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya guna meneruskan perjuangan.

“Kaum ibu sebagai guru dalam rumah tangga yang merupakan madrasatul ula bagi anak-anak kita guna mempersiapkan generasi tangguh yang dapat bersaing pada zamannya, yaitu anak saleh yang diberkahi keimanan, akhlak, ilmu pengetahuan dan keterampilan,” urainya.

Di bagian lain, Nyai Kam, sapaan akrabnya, juga menekankan pentingnya ber-muhasabah atau introspeksi diri untuk menata hati. Hati perlu ditata agar sabar dalam menghadapi segala macam cobaan. Bulan Ramadan adalah momentum untuk menata hati.

“Menata hati di bulan Ramadan, yakni melatih kesabaran, keikhlasan, tawakal, ridho akan takdir Allah, apalagi sekarang bulan Ramadan agar tidak mengurangi pahala puasa kita,” terangnya.

Sementara KH Abdullah Syamsul Arifin saat memberikan tausiyah mengungkapkan, sabar adalah menerima sesuatu yang terjadi bahwa itulah ketentuan dari Allah. Namun ia mengingatkan bahwa sabar tidak boleh pasif, tapi harus aktif.

“Kita harus berupaya bagaimana hal yang tidak baik, tidak terjadi lagi. Tapi kalau terjadi lagi, ya sabar lagi,” jelasnya.

Gus Aab, sapaan akrabnya, lalu menukil untaian kata Imam Syafi’i: biarkan hari-hari berlalu dengan apapun yang akan dilakukannya, tapi yang penting hati harus tetap riang dan gembira terhadap apapun  keputusan yang datang dari Allah. Kita yakin bahwa itulah yang terbaik menurut Allah.

“Itulah yang paling penting, itu sabar,” pungkasnya (Jbr-1/AAR).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!