Dari Pulau Kecil ke Kampus Doktoral: Abdul Halim Pilih Unisda Lamongan, Ini Alasannya
Lamongan, Portal Jawa Timur – Melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral (S3) merupakan impian banyak orang. Namun, tidak sedikit yang hanya berhenti pada angan, tanpa mampu mewujudkannya. Salah satu kendala utama yang kerap dihadapi adalah persoalan biaya yang dianggap tinggi.
Hal itulah yang pernah dirasakan oleh Abdul Halim, pria asal Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Ia mengaku mantap melanjutkan studi doktoral di Universitas Islam Darul ‘Ulum (Unisda) Lamongan karena menawarkan biaya pendidikan yang relatif ekonomis.
Baca Juga: S3 Tak Lagi Elitis, Unisda Lamongan Hadirkan Pendidikan Doktoral Berkualitas dengan Biaya Terjangkau
“Ini sesungguhnya peluang besar bagi masyarakat untuk bisa melanjutkan studi hingga S3,” ujarnya di Lamongan, Kamis (9/4/2026).
Menurutnya, hal yang patut diapresiasi adalah biaya yang terjangkau tersebut tidak mengurangi kualitas akademik. Mulai dari tenaga pengajar, sistem pembelajaran, hingga sarana dan prasarana kampus, seluruhnya tetap dikelola secara profesional.
“Sejak awal saya merasakan lingkungan akademik yang kondusif, dengan atmosfer pendidikan yang kental nuansa religius. Ini menciptakan kenyamanan dalam proses belajar,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menuturkan bahwa mahasiswa mendapatkan pendampingan intensif dari dosen dan promotor yang kompeten di bidangnya. Dukungan terhadap penelitian serta publikasi ilmiah juga menjadi kekuatan utama, sejalan dengan kurikulum yang dirancang berbasis studi Islam dengan perspektif global.
Kini memasuki semester dua pada Program Studi Studi Islam, Abdul Halim merasakan dampak signifikan terhadap pengembangan dirinya.
“Selama menjalani studi S3 di Unisda, saya merasakan peningkatan kualitas diri yang sangat mendalam. Tidak hanya secara akademik, tetapi juga dalam memperluas relasi serta menempa ketekunan dalam berpikir dan berkarya,” ungkapnya.
Selain sebagai mahasiswa doktoral, Abdul Halim juga menjabat sebagai Rektor Institut Agama Islam Hasan Jufri Bawean. Ia berharap program doktor di Unisda mampu melahirkan riset keislaman kontemporer yang moderat, inovatif, dan berdaya saing global.
Program ini juga diharapkan dapat meningkatkan kapasitas akademik mahasiswa, memperkuat jejaring riset, serta mencetak doktor yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia dan solutif terhadap berbagai persoalan umat.
“Lebih dari itu, saya berharap masyarakat Bawean terinspirasi untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin, kemudian kembali untuk membangun daerahnya,” tuturnya.
Harapan tersebut bukan tanpa alasan. Pulau Bawean merupakan wilayah kepulauan dengan luas sekitar 197,42 kilometer persegi yang terdiri dari dua kecamatan. Selain dikenal sebagai “Pulau Putri”, Bawean juga memiliki populasi yang relatif kecil di Jawa Timur.
Karena itu, Abdul Halim menaruh harapan besar agar semakin banyak generasi muda berpendidikan tinggi yang kembali ke tanah kelahirannya, membawa ilmu dan kontribusi nyata untuk membangun Bawean menjadi lebih maju. (Jbr-1/AAR)



