Opini

Masa Tua dalam Perspektif Al-Qur’an: Menurunnya Fisik, Meningginya Ruhani

Oleh: Dr. Bunyai Hj Aisyah Ajhury Al Hasani, M.Pd.I

Tidak ada manusia yang mampu menawar hukum waktu. Setiap detik yang berlalu bukan sekadar menambah angka usia, tetapi juga mengurangi jatah kehidupan yang tersisa. Ironisnya, manusia sering bersuka cita ketika usianya bertambah, padahal pada saat yang sama ia sedang melangkah semakin dekat menuju akhir perjalanan dunia. Di sinilah Al-Qur’an mengajarkan cara pandang yang jauh melampaui logika manusia.

Allah Swt. berfirman: وَمَن نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ ۖ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

“Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan dia kepada keadaan yang lemah dalam penciptaannya. Maka apakah mereka tidak mengerti?” (QS. Yasin [36]: 68).

Ayat ini bukan sekadar informasi biologis tentang proses penuaan, melainkan sebuah teguran teologis agar manusia menyadari keterbatasan dirinya. Frasa نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ mengandung makna mengembalikan manusia kepada fase kelemahan setelah sebelumnya mencapai puncak kekuatan. Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah membalik keadaan manusia dari kuat menjadi lemah, dari sehat menjadi rapuh, dari ketajaman akal menuju berkurangnya kemampuan fisik. Ibnu Katsir menegaskan bahwa inilah sunnatullah yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Al-Qurthubi menambahkan bahwa kemunduran fisik tersebut merupakan bukti nyata kekuasaan Allah atas makhluk-Nya.

Menariknya, Al-Qur’an menggunakan kata نُعَمِّرْهُ—“Kami panjangkan umurnya”—sebelum menyebut نُنَكِّسْهُ—“Kami kembalikan kepada kelemahan”. Susunan ini mengandung pesan bahwa umur panjang bukanlah simbol kejayaan duniawi, melainkan amanah yang selalu diiringi konsekuensi. Bertambahnya usia hampir selalu beriringan dengan berkurangnya kekuatan fisik. Rambut memutih, kulit mengendur, langkah melambat, pendengaran berkurang, penglihatan melemah, dan daya tahan tubuh tidak lagi sekuat dahulu.

Fenomena tersebut telah diisyaratkan pula dalam firman Allah:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً…

“Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah kembali dan beruban.” (QS. Ar-Rum: 54).

Al-Qur’an menggambarkan kehidupan manusia laksana matahari. Masa kanak-kanak adalah fajar, masa muda adalah matahari di tengah langit, sedangkan usia tua adalah senja. Namun senja dalam pandangan Islam bukanlah lambang berakhirnya cahaya, melainkan pertanda bahwa malam keabadian semakin dekat.

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara cara pandang dunia modern dan pandangan Islam. Peradaban material sering mengukur manusia dari produktivitas fisiknya. Ketika tenaga melemah, seseorang dianggap kehilangan nilai. Sebaliknya, Islam justru memuliakan mereka yang semakin tua semakin kaya hikmah, semakin dalam ilmunya, semakin lembut akhlaknya, dan semakin dekat hubungannya dengan Allah.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ’Ulumiddin mengingatkan bahwa hakikat usia bukanlah lamanya hidup, melainkan sejauh mana umur digunakan untuk mendekat kepada Allah. Umur panjang yang kosong dari ibadah hanyalah perjalanan menuju penyesalan. Sebaliknya, usia yang dipenuhi amal saleh akan menjadi cahaya ketika seluruh kekuatan dunia meninggalkan manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda: خير الناس من طال عمره وحسن عمله

Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi).

Hadis ini memberikan koreksi terhadap anggapan bahwa panjang umur selalu identik dengan keberuntungan. Dalam Islam, umur panjang baru bernilai ketika diiringi amal yang semakin baik. Jika usia bertambah tetapi hati semakin jauh dari Allah, maka tambahan umur hanyalah tambahan kesempatan yang belum dimanfaatkan.

Sejarah para ulama besar memperlihatkan kenyataan yang mengagumkan. Imam Ath-Thabari tetap menulis hingga usia senja. Imam Ibnu Hajar Al-’Asqalani menyempurnakan Fathul Bari setelah puluhan tahun mengkaji hadis. Imam An-Nawawi menghabiskan hidupnya dengan mengajar, menulis, dan beribadah tanpa mengenal kemalasan. Kekuatan fisik mereka mungkin berkurang, tetapi keluasan ilmu, kedalaman hikmah, dan keberkahan hidup justru mencapai puncaknya.

Kisah Nabi Zakaria ’alaihissalam bahkan menjadi simbol harapan bagi setiap hamba yang menua. Ketika beliau berkata:

رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا

Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban.” (QS. Maryam: 4),

beliau tidak sedang meratapi usia, melainkan mengakui kelemahan di hadapan Rabb-nya. Justru pada usia senja Allah mengangkat derajat beliau dengan mengabulkan doa yang tampak mustahil menurut ukuran manusia.

Inilah pelajaran terbesar tentang masa tua. Berkurangnya tenaga bukanlah berkurangnya kemuliaan. Lemahnya jasmani bukan berarti redupnya cahaya ruhani. Bahkan sering kali ketika tubuh mulai kehilangan kekuatannya, hati justru menemukan ketenangan yang selama ini dicari. Dunia perlahan ditinggalkan, sedangkan akhirat semakin memenuhi ruang batin.

Maka, seseorang tidak perlu takut memasuki usia senja. Yang patut ditakuti adalah memasuki usia tua tanpa bekal amal. Rambut yang memutih bukanlah pertanda kegagalan, melainkan undangan Allah agar manusia lebih banyak bersujud. Keriput di wajah bukanlah aib, tetapi jejak perjalanan panjang yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta.

Akhirnya, masa tua adalah madrasah terakhir sebelum kembali kepada Allah. Pada fase inilah manusia diuji: apakah ia sibuk meratapi tubuh yang melemah, atau justru bersyukur karena diberi kesempatan menyempurnakan amal. Sebab sejatinya, bukan panjang umur yang menentukan kemuliaan seseorang, melainkan seberapa dekat ia kepada Allah ketika umur itu berakhir.

Orang-orang saleh tidak pernah takut menjadi tua. Mereka hanya takut apabila usia bertambah, tetapi cinta kepada Allah tidak ikut bertambah. Karena bagi mereka, senja kehidupan bukanlah akhir cahaya, melainkan awal terbitnya fajar keabadian.

Penulis adalah Ketua Jam’iyyah Perempuan Pengasuh Pesantren & Muballighah (JPPPM) Kab. Jember

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!