Pendidikan

Putus Rantai Bullying di Pesantren, Dosen Universitas dr. Soebandi Jember Ciptakan Nadhom Anti Bullying

Jember,  Portal Jawa Timur – Upaya mencegah bullying di lingkungan pesantren kini hadir melalui pendekatan budaya yang lebih dekat dengan kehidupan santri. Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas dr. Soebandi (UDS) Jember memperkenalkan Nadhom Anti Bullying kepada 100 peserta yang terdiri dari santri dan guru Pondok Pesantren Miftahul Ulum Kalisat, Kamis (9/7/2026).

Baca Juga: Universitas dr. Soebandi Bangun UDS Tower, Bupati Jember Dorong UDS Dirikan Fakultas Kedokteran

Inovasi tersebut dikembangkan sebagai media edukasi kesehatan mental berbasis budaya pesantren. Nadhom berisi enam pesan utama pencegahan bullying yang disusun dalam bentuk syair sehingga mudah dihafalkan, dipahami, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Kejar Impian World Class University, UDS Jember Gelar International Community Service di Malaysia

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Departemen Keperawatan Jiwa Universitas dr. Soebandi, Zidni Nuris Yuhbaba, S.Kep., Ns., M.Kep, mengatakan bahwa pendekatan ini merupakan bentuk inovasi dalam mengadaptasi konsep Bully Blocking Therapy ke dalam budaya pesantren melalui media nadhom.

Baca Juga: Perkuat Perlindungan Anak, Dosen Universitas Jember Latih Guru SD dan Kembangkan Pojok Lapor di Empat Sekolah

“Pesantren memiliki tradisi belajar melalui nadhom yang sudah mengakar. Karena itu kami mengembangkan media edukasi anti bullying dalam bentuk nadhom agar lebih mudah diterima, dihafalkan, dan diamalkan oleh para santri,” ujarnya.

Baca Juga: Ribuan Jamaah Hadiri Pengajian Jumat Manis Muslimat NU Jember, Muharram Jadi Momentum Memperbaiki Diri

Zidni menjelaskan, lirik Nadhom Anti Bullying disusun berdasarkan enam prinsip utama Bully Blocking Therapy, yaitu mengenali diri sendiri, berkomunikasi secara asertif, memilih lingkungan pertemanan yang positif, menetapkan batas terhadap perilaku yang merugikan, mengelola rasa takut, serta bersikap tegas tanpa menyakiti orang lain.

Keunikan media edukasi tersebut juga terletak pada penyajiannya dalam dua bahasa. Setelah lirik disusun oleh Zidni, nadhom kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh ahli bahasa dan sastra Arab, Syarifaeny Fahdiah, M.Hum, sehingga tetap selaras dengan tradisi pembelajaran di lingkungan pesantren.

Pelaksanaan kegiatan turut difasilitasi oleh anggota tim pengabdian, Ns. Wahyi Sholehah, M.Kep dan Ns. M. Elyas Arif B., M.Kep, yang mendampingi peserta selama penyampaian materi, praktik pembacaan nadhom, simulasi, hingga diskusi mengenai strategi pencegahan bullying di lingkungan pesantren.

Selain mengenalkan nadhom, tim juga memberikan edukasi mengenai dampak bullying terhadap kesehatan mental remaja, pentingnya membangun komunikasi yang sehat, serta peran guru dan santri dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan saling menghargai.

Para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi. Mereka tidak hanya mempelajari isi nadhom, tetapi juga mempraktikkan cara melantunkannya sebagai media pembelajaran karakter di lingkungan pesantren.

Menurut Zidni, pendekatan berbasis budaya menjadi salah satu strategi efektif dalam meningkatkan penerimaan pesan kesehatan mental di kalangan santri. Melalui nadhom, nilai-nilai anti bullying dapat diinternalisasikan secara berkelanjutan karena menjadi bagian dari tradisi belajar di pesantren.

“Kami berharap guru dan santri dapat menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, saling menghormati, serta bebas dari bullying. Nadhom ini diharapkan menjadi media edukasi yang dapat terus digunakan dalam pembinaan karakter santri,” pungkasnya (Jbr-1/WIL).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!