Santunan Anak Yatim Jam’iyyah Surah Al-Waqi’ah Pesantren Fatihul Ulum: Menggapai Kedekatan dengan Rasulullah SAW Lewat Kepedulian
Jember, Portal Jawa Timur – Suasana penuh haru dan keberkahan menyelimuti kegiatan Santunan Anak Yatim yang dirangkai dengan Kajian Rutin Jam’iyyah Surah Al-Waqi’ah Pondok Pesantren Fatihul Ulum Klatakan, Tanggul, pada Jumat (3/7/2026).
Kegiatan yang berada di bawah asuhan Dr. Nyai Hj. Aisyah Ajhury Al Hasani, M.Pd.I tersebut berlangsung khidmat dan dihadiri oleh jajaran Muslimat NU, jamaah Jam’iyyah Surah Al-Waqi’ah, tokoh masyarakat, serta masyarakat dari berbagai wilayah di Kecamatan Tanggul dan sekitarnya. Antusiasme para peserta mencerminkan tingginya semangat ukhuwah Islamiyah, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap syiar Islam.
Program santunan anak yatim ini merupakan salah satu ikhtiar nyata Jam’iyyah Surah Al-Waqi’ah dalam mengimplementasikan nilai-nilai Al-Qur’an melalui kepedulian kepada sesama. Tidak sekadar memberikan bantuan materi, kegiatan tersebut menjadi media pendidikan spiritual bahwa memuliakan anak yatim merupakan bagian dari ibadah sosial yang memiliki nilai besar di sisi Allah SWT.
Dalam tausiyahnya, Ning Aisyah –sapaan akrabnya– menegaskan bahwa selama ini masyarakat sering beranggapan hanya anak yatim yang membutuhkan uluran tangan orang lain. Padahal, menurut beliau, hakikatnya justru kitalah yang membutuhkan kehadiran mereka sebagai jalan meraih rahmat Allah SWT.
“Jangan pernah merasa bahwa hanya anak yatim yang membutuhkan kita. Sesungguhnya kita lebih membutuhkan mereka. Melalui anak-anak yatim, Allah membuka pintu kasih sayang-Nya, melapangkan rezeki, menghapus dosa-dosa, dan menghadirkan kesempatan bagi kita untuk memperoleh kedekatan dengan Rasulullah SAW di surga,” tuturnya.
Kata Ning Aisyah, pesan tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah SAW: أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا
“Aku dan orang yang memelihara anak yatim akan berada di surga seperti ini.” Beliau kemudian merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR. al-Bukhari).
Allah SWT juga memberikan perhatian yang sangat besar terhadap anak yatim sebagaimana firman-Nya: فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ
“Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” (QS. Adh-Dhuha: 9).
“Jadi anak yatim itu sangat istimewa,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ning Aisyah juga menyampaikan bahwa pemaknaan yang lebih mendalam tentang hakikat anak yatim. Menurutnya, yatim yang paling membutuhkan perhatian bukan hanya mereka yang kehilangan ayah secara biologis, tetapi juga anak-anak yang kehilangan pendidikan agama, akhlak, dan bimbingan menuju Allah SWT.
Katanya, seorang anak yang masih memiliki kedua orang tua dapat menjadi “yatim ruhani” apabila tumbuh tanpa mengenal Al-Qur’an, jauh dari nilai-nilai Islam, serta tidak memperoleh pendidikan akhlakul karimah. Sebaliknya, tidak sedikit anak yatim yang kehilangan ayah justru mampu tumbuh menjadi generasi unggul karena mendapatkan kasih sayang, pendidikan agama, dan bimbingan para guru serta lingkungan yang saleh.
“Karena itu, santunan terbaik bukan hanya memenuhi kebutuhan hidup mereka hari ini, tetapi juga menghadirkan pendidikan, akhlak, dan kasih sayang yang akan mengantarkan mereka menjadi generasi Qur’ani dan berakhlakul karimah,” urainya.
Melalui kajian rutin yang istikamah diselenggarakan di bawah asuhan Ning Aisyah, Jam’iyyah Surah Al-Waqi’ah terus berkomitmen membangun keseimbangan antara penguatan spiritual, pendidikan keislaman, dan kepedulian sosial. Semangat inilah yang diharapkan mampu melahirkan masyarakat yang tidak hanya gemar beribadah, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap sesama, khususnya anak-anak yatim sebagai amanah umat dan pintu menuju keberkahan dunia serta kebahagiaan akhirat (Jbr-1/AAR).