96 Pesantren Berkumpul di Nurul Qarnain Jember, Silatnas Muadalah Tegaskan Arah Baru Pendidikan Nasional
Jember, Portal Jawa Timur – Sebanyak 96 pesantren dari berbagai wilayah di Indonesia ambil bagian dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) Forum Komunikasi Pesantren Muadalah (FKPM) Salafiyah yang digelar di Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Minggu (12/04/2026). Kegiatan ini menjadi forum strategis dalam membahas arah penguatan pendidikan pesantren di tingkat nasional.
Baca Juga: Mengintip Keasyikan Pelatihan Tata Boga di MA Plus Keterampilan Nurul Qarnain Sukowono Jember
Para peserta datang dari berbagai daerah, mulai dari Aceh, Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Bali. Mereka terdiri dari pimpinan pesantren, pengasuh, serta pengelola satuan pendidikan muadalah yang selama ini berperan dalam pengembangan pendidikan pesantren formal.
Baca Juga: Berorientasi Mandiri, MA Plus Keterampilan Nurul Qarnain Sukowono Jember Gelar Pelatihan Tata Busana
Koordinator FKPM Salafiyah, KH. Ahmad Taufiq AR, menyampaikan bahwa Silatnas ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan para pimpinan pesantren dalam satu forum dialog dan musyawarah.
“Ini adalah ruang bersama untuk menyatukan pandangan dan merumuskan arah pendidikan pesantren ke depan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Silatnas FKPM telah memasuki tahun ketujuh sejak pertama kali digelar pada 2019 di Pondok Pesantren Mathaliul Falah, Kajen, Pati Jawa Tengah. Kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan di sejumlah daerah seperti Pasuruan, Tasikmalaya, Wonosobo hingga Aceh.
Menurut KH. Ahmad Taufiq AR, perkembangan pesantren muadalah dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang cukup signifikan, baik dari sisi jumlah maupun partisipasi.
“Awalnya hanya puluhan pesantren yang terlibat. Kini jumlahnya mencapai 96 pesantren. Bahkan sejak 2020, pertumbuhannya meningkat cukup pesat,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menilai bahwa capaian tersebut masih perlu diperluas mengingat jumlah pesantren di Indonesia yang mencapai ribuan.
“Masih banyak pesantren yang perlu didorong untuk mengembangkan pendidikan berbasis muadalah,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa penguatan pendidikan pesantren tidak harus dilakukan dengan mengubah manhaj.
“Pesantren tidak perlu meninggalkan manhaj-nya. Yang perlu dilakukan adalah memperkuat pengakuan agar pesantren menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional,” katanya.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya membangun jejaring antar pesantren sebagai kekuatan kolektif.
“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi menjadi kunci dalam menghadapi tantangan,” lanjutnya.
Dalam forum tersebut juga dibahas sejumlah langkah strategis, termasuk persiapan asesmen bagi pesantren muadalah. Dari 29 asesmen yang telah dilakukan, sebagian besar menunjukkan hasil baik dengan dominasi predikat mumtaz.
Sementara itu, Kepala Bidang Pondok Pesantren Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur, Dr. Imam Turmudzi, menegaskan bahwa pesantren memiliki peran besar dalam kehidupan sosial masyarakat.
“Pesantren harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa Jawa Timur menjadi salah satu daerah dengan jumlah pesantren terbanyak di Indonesia, sehingga memiliki peran penting dalam pengembangan pendidikan pesantren secara nasional.
Dalam kesempatan tersebut juga dibahas penguatan kelembagaan FKPM, mulai dari pembentukan kepengurusan, penyiapan calon ahlul halli wal aqdi, hingga pengagendaan silaturahmi secara berkala.
“Kita boleh berbeda, tetapi harus tetap bersama,” menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam forum tersebut.
Silatnas ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi antar pesantren muadalah serta meningkatkan kualitas pendidikan pesantren di masa mendatang (Jbr-1/WIL).



