MBG BINTORO

Tiap Hari Disuplay Makanan Gratis, Ini Tanggapan Guru dan Tokoh Masyarakat Mojan Jember

Jember,  Portal Jawa Timur – Kendati hanya nasi dengan sayur dan lauk pauk sederhana, namun menu makanan yang disajikan oleh Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Bintoro 1 Jember itu, sungguh berharga bagi murid-murid  SMPN 15 Jember, SDN Bintoro 05, dan TK Dharma Wanita 02 Bintoro Jember.

Baca Juga: Antisipasi Keluhan Penerima Manfaat, H Achmad Sudiyono Kawal Terus Distribusi MBG

“Terima kasih kasih, pak. Kami merasa terhormat dapat makanan gratis dari pemerintah  walaupun kami tinggal di kaki gunung,” ujar Kepala SMP 15 Jember, Suryadi, Selasa (17/6/2025).

Baca Juga: H Achmad Sudiyono, Owner Dapur MBG di Jember: Kisah Tentang Semangat Bekerja Tak Luntur di Usia Senja

Suryadi mengungkapkan bahwa kehadiran makanan gratis sangat bermanfaat bagi murid-murid SMPN 15 Jember, sehingga setiap hari ditunggu.

“Walaupun misalnya anak-anak belum bisa makan saat berangkat sekolah, tapi di sekolah bisa makan (makan gratis),” jelasnya.

Sekadar diketahui, SMPN 15 Jember, SDN Bintoro 05, dan TK Dharma Wanita 02 Bintoro Jember berada di satu area di Lingkungan Mojan Kelurahan Bintoro Kabupaten Jember. Total muridnya di 3 lembaga pendidikan itu hanya 101 orang.

Sementara itu, Kepala SDN  Bintoro 05, Muzayyanah mengatakan bahwa setiap hari murid-murid menunggu datangnya makan gratis itu.

“Karena sudah biasa, sekarang ya ditunggu setiap hari sama anak-anak,” ucapnya.

Tokoh masyarakat setempat, KH Syamhari juga menyambut baik hadirnya program Makan Bergiszi Gratis (MBG) yang disuplay dari Dapur Bintoro 1 Jember.

“Anak-anak pasti senang,” ucapnya.

KH Syamhari adalah sosok yang ikut terlibat dalam pendirian SMPN 15 Jember, SDN  Bintoro 05, dan TK TK Dharma Wanita 02 Bintoro.

“Pertama saya mendirikan Madrasah Ibtidaiyah, lalu di sebelahnya dibangun SDN zamannya Pak Djalal, tahun 2011. Lalu didirikan SMPN tahun 2011 juga,” urai KH Syamhari.

Kakek KH Syamhari yang asli Madura adalah orang yang pertama kali membuka lahan tersebut di lokasi tersebut. Dengan peralatan seadanya, sang kakek membabat hutan sedikit demi sedikit, hingga akhirnya bisa dibuat tempat rumah dan lahan bercocok tanam hingga turun-temurun.

“Meski leluhur saya orang Madura, tapi saya lahir di sini,” jelasnya.

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep Madura itu berharap agar program MBG tetap jalan dan lancar.

“Karena manfaatnya jelas,” pungkasnya (Jbr-1/AAR).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!