News

Peradaban Bangsa Ditentukan dari Rumah, Ning Aisyah Sebut Ibu Adalah Sekolah Pertama Anak

Jember,  Portal Jawa Timur – Ratusan jamaah menghadiri Pengajian Triwulan Muslimat NU Ancab Umbulsari yang berlangsung khidmat dan penuh antusiasme. Kegiatan rutin Muslimat NU tersebut menghadirkan Pengasuh PP Fatihul Ulum Klatakan Tanggul Jember, Nyai Hj. Dr. Aisyah Ajhury Al Hasani, M.Pd.I.

Dalam tausiyahnya, Ning Aisyah, sapaan akrabnya,  menegaskan bahwa kesuksesan perempuan di ruang publik harus diawali dengan keberhasilannya menjalankan peran domestik sebagai istri dan ibu. Menurutnya, keluarga merupakan fondasi utama lahirnya generasi yang berkualitas dan berakhlakul karimah.

“Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sebelum mereka mengenal guru di sekolah, mereka terlebih dahulu belajar dari sosok ibunya,” tutur beliau.

Koordinator Pemberdayaan Perempuan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur itu kemudian mengutip sebuah qaul hikmah yang sangat masyhur tentang pentingnya peran seorang ibu dalam membangun peradaban: الأُمُّ مَدْرَسَةُ الْأُولَى، إِذَا أَعْدَدْتَهَا أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ الْأَعْرَاقِ

“Ibu adalah sekolah pertama. Apabila engkau mempersiapkannya dengan baik, maka engkau telah mempersiapkan sebuah bangsa yang baik keturunan dan peradabannya.”

Menurutnya, qoul tersebut mengingatkan bahwa pendidikan sejatinya tidak dimulai di ruang kelas, melainkan dari lingkungan keluarga. Di dalam rumah, seorang ibu tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga menanamkan nilai, membentuk karakter, dan menjadi teladan dalam sikap maupun perilaku sehari-hari.

Katanya, kemajuan bangsa sesungguhnya berawal dari kualitas pendidikan dalam keluarga. Dari tangan seorang ibu lahir para ulama, pemimpin, pendidik, dan generasi penerus yang akan menentukan masa depan umat dan bangsa.

Selain membahas peran strategis perempuan, Ning Aisyah juga mengulas sejarah berdirinya Muslimat NU. Ia menjelaskan bahwa Muslimat NU secara resmi berdiri pada tanggal 29 Maret 1946 M bertepatan dengan 26 Rabi’ul Akhir 1365 H, sebagai wadah perjuangan perempuan Nahdliyin dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan kemasyarakatan. Katanya, para muassisah Muslimat NU telah mewariskan teladan perjuangan yang luar biasa.

“Oleh karena itu, kader Muslimat NU masa kini harus terus meningkatkan kualitas keilmuan, pengabdian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat dengan tetap berpijak pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah,” urainya.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Jam’iyyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighah (JPPPM) Kabupaten Jember, itu juga memaparkan konsep pendidikan anak yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA melalui metode 7 x 3. Dikatakannya,  pada usia 0–7 tahun, anak diperlakukan layaknya raja dengan penuh kasih sayang, perhatian, dan kebahagiaan agar tumbuh rasa aman serta percaya diri.

Kemudian pada usia 7–14 tahun, anak diperlakukan seperti seorang tawanan, yakni diberikan disiplin, aturan, tanggung jawab, serta pengawasan yang lebih intensif.

“Fase ini merupakan masa pembentukan karakter yang penuh gejolak sehingga membutuhkan pendampingan yang serius dari orang tua,” ungkapnya.

Sedangkan pada usia 14–21 tahun, anak diperlakukan sebagai sahabat. Pada fase ini orang tua harus mampu membangun komunikasi yang hangat, menjadi pendengar yang baik, serta menghadirkan diri sebagai teman berdiskusi bagi putra-putrinya.

“Jangan sampai anak mencari sahabat di luar rumah karena tidak menemukan sahabat di dalam rumah,” pesannya.

Ning Aisyah menambahkan bahwa tantangan pendidikan di era digital semakin kompleks. Karena itu, seorang ibu tidak cukup hanya menjadi pengasuh, tetapi juga harus menjadi pendidik, motivator, teladan, sekaligus benteng moral bagi anak-anaknya.

Di akhir tausiyahnya, ia  berpesan bahwa perempuan hebat bukan hanya mereka yang berhasil menorehkan prestasi di ruang publik, tetapi juga mereka yang mampu menjalankan amanah sebagai istri, ibu, dan pendidik utama dalam keluarga.

“Peradaban besar tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari rumah-rumah yang di dalamnya ada ibu-ibu hebat yang mendidik dengan ilmu, kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan. Karena itu, mari kita terus belajar dan memperbaiki diri agar mampu melahirkan generasi terbaik untuk agama, bangsa, dan negara,” pungkasnya.

Acara tersebut ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah antarjamaah. Para peserta tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai. Pengajian triwulan ini diharapkan terus menjadi media silaturahmi, penguatan organisasi, serta peningkatan kapasitas perempuan Muslimat NU dalam menghadapi berbagai tantangan zaman (Jbr-1/AAR).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!