Gala Siswa Jember 2026 Disorot, Sang Juara Kehilangan Kesempatan Tampil di Level Jawa Timur
Jember, Portal Jawa Timur – Perhelatan Gala Siswa 2026 Kabupaten Jember yang baru saja usai masih terus menuai sorotan publik. Di tengah antusiasme masyarakat terhadap kompetisi sepak bola pelajar tersebut, muncul polemik terkait status penyelenggaraan ajang yang disebut bukan bagian dari agenda resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Baca Juga: Gala Siswa 2026 Jember Ternyata Tak Terafiliasi dengan Agenda Resmi Kemedikdasmen
Sorotan itu mencuat lantaran kompetisi tersebut tidak tercantum dalam akun resmi Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), sebuah lembaga di bawah Kemendikdasmen yang bertugas mengembangkan dan mengelola prestasi peserta didik di Indonesia. Akibatnya, juara kompetisi tidak memperoleh kuota untuk melaju ke ajang Gala Siswa Indonesia tingkat Jawa Timur.
Baca Juga: Kongres Biasa Askab PSSI Jember Ricuh, Nyaris Terjadi Baku Pukul, Ini Penyebabnya
Pemerhati sepak bola, H. Abdussalam, menilai kondisi tersebut justru merugikan pihak yang telah berjuang di lapangan, terutama sang juara, yakni SMP Negeri 1 Jember.
“Karena mereka kehilangan hak untuk bertanding di level Jawa Timur, padahal bertanding di level yang lebih tinggi adalah dambaan pemain sepak bola,” ujar di Jember, Ahad (24/5/2026).
Menurut Abdussalam, dalam skema resmi Gala Siswa Indonesia, penyelenggara utama di tingkat daerah seharusnya berada di bawah Dinas Pendidikan. Hal itu dinilai wajar karena peserta kompetisi berasal dari sekolah-sekolah yang memiliki tim sepak bola pelajar.
Sementara itu, peran Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Jember, kata dia, mestinya lebih kepada perangkat teknis pelaksanaan pertandingan, seperti penyediaan wasit dan kelengkapan kompetisi lainnya.
“Tapi yang saya amati, ini yang menyeleggarakan dan punya otoritas penuh adalah Askab. Ini bagaimana ceritanya?” ucapnya heran.
Abdussalam juga menyoroti pentingnya afiliasi kompetisi dengan Kemendikdasmen, terutama menyangkut aspek perlindungan dan keselamatan pemain. Menurutnya, dalam kompetisi resmi semestinya terdapat mekanisme pertanggungjawaban yang jelas apabila terjadi insiden terhadap atlet pelajar.
“Kalau seperti ini siapa yang bertanggug jawab jika misalnya ada pemain cedera, siapa yang mau biayai,” terang Abdussalam.
Tak hanya itu, Abdussalam turut mempertanyakan transparansi pengelolaan keuangan dalam pelaksanaan ajang tersebut. Meski pendaftaran peserta disebut gratis, penonton tetap dikenakan tiket masuk untuk menyaksikan pertandingan di stadion.
“Itu masuk kemana uang karcis, uang parkir, ke Dinas Pendidikan atau Askab,” pungkasnya (Jbr-1/AAR).



