MBG BINTORO

H Achmad Sudiyono: Bahan Baku MBG Jika Tak Diantisipasi Sejak Dini Bisa Jadi Bom Waktu

Jember,  Portal Jawa Timur – Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknologi Pertanian Politkenik Negeri Jember (Polije) menggelar dialog dengan tajuk Kajian Isu 2025 di Auditorium Vokasi Polije, Sabtu (1/11/2025).

Baca Juga: Gus Baiqun Jember Sebut MBG Layak Didukung Masyarakat

Dialog yang mengusung  tema Aktualisasi Peran Mahasiswa dalam Mendukung Kebijakan dan Implementasi MBG terhadap Keamanan Pangan, Sosial, Politik, dan Ekonomi itu menghadirkan tiga narasumber kompeten: H Achmad Sudiyono (Owner SPPG Dapur MBG Bintoro Jember), Widi Prasetyo (Ketua Yayasan TPA), dan Prof. Tejasari (Ahli Gizi Pangan Universitas Jember).

Baca Juga: Dosen Polije Ditantang Buat Aplikasi Takaran Menu MBG

Dalam pemaparannya, H Achmad Sudiyono mengungkapkan bahwa berdirinya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jember Jawa Timur harus disyukuri. Pasalnya, keberadaan SPPG Dapur MBG itu akan menjadi sumber asupan gizi bagi anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui dan balita. Selain, serapan tenaga kerja dari SPPG Dapur MBG juga lumayan tinggi.

Namun  pada saat bersamaan, ketersediaan bahan baku MBG naga-naganya bakal menjadi persoalan serius di masa-masa mendatang, bahkan bisa menjadi bom waktu yang dapat memicu kegaduhan di masyarakat.

“Jika tidak diantisipasi sedini mungkin, ini nanti bisa jadi bom waktu,” ucapnya.

Menurut H Achmad, Jember ditarget memiliki 216 dapur dari target awal sebanyak 250 dapur MBG. Saat ini, katanya, dapur yang sudah berdiri sebanyak 51.

“Yang sudah running sebanyak 49 dapur, rata-rata setiap hari menyiapkan 3.500 porsi, ini masih mendingan karena cuma 49 meski sudah agak ruwet,” tambahnya.

link video terkait:

H Achmad menambahkan, yang menjadi masalah nanti jika 216 Dapur MBG sudah beroperasi semua, sedangkan suplay bahan baku MBG tidak mencukupi.

“Tahu, tempe, bisa jadi ibu-ibu sudah nanti tidak kebagian karena sudah diborong dapur MBG. Makanya, ini semua perlu disikapi secara serius,” jelasnya.

Hal tersebut, lanjut H Achmad, adalah tantangan sekaligus peluang berusaha yang cukup besar. Katanya, orang yang jeli, pasti peka terhadap peluang itu, yakni peluang usaha menyiapkan bahan baku MBG.

“Saya berharap Polije menjadi motor untuk menangkap peluang itu. Bahkan mahasiswa dan alumni Polije, juga bisa,” urainya.

Sementara itu, Widi Prasetyo mengatakan, penerima manfaat pertama dan utama dari keberadaan dapur MBG khususnya di Kabupaten Jember adalah Polije.

“Buktinya, kepala dapur, akuntan, dan ahli gizi yang dibutuhkan dapur MBG, hampir semuanya berasal dari Polije. Kepala dapur kami di Bintoro asli lulusan Polije,” ucapnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!