
Akhir 2025, sektor infrastruktur Indonesia tumbuh pesat berkat kebijakan pemerintah transisi energi. Proyek pembangkit listrik surya naik 30%, dorong perusahaan seperti CDIA ekspansi Rp3 triliun. Investor lihat peluang besar di logistik dingin untuk makanan halal.
PT Chandra Daya Investasi (CDIA) jadi pemain kunci dengan fasilitas cold chain baru di Jawa Timur. Kapasitas tambah 20% akhir 2025, dukung ekspor buah dan vaksin. Ini ikut tren permintaan logistik syariah yang naik 15% YoY.
Pinjaman sindikasi Rp3,33 triliun dari Bangkok Bank pada 29 Desember 2025 jadi katalis utama. Dana ini untuk kapal kimia “Novah” dan bitumen plant mulai Q3 2026. Biaya murah 6% per tahun bikin ekspansi efisien.
Masuk Januari 2026, harga komoditas stabil picu optimisme. Bitumen untuk jalan tol butuh 12.000 m³/tahun, CDIA siap suplai via anak usaha. Pemerintah alokasikan Rp500 triliun APBN untuk infrastruktur.
CSR CDIA kuat, latih 1.000 pekerja energi hijau di Surabaya. Ini dukung SDGs dan dapat insentif pajak. Komunitas lokal apresiasi, tingkatkan lisensi proyek cepat. Analis prediksi pertumbuhan sektor 12% di 2026. CDIA target pendapatan Rp10 triliun, didukung dividen Rp1,34/saham. Investor ritel ramai beli via Stockbit. Teknologi IoT di cold chain CDIA kurangi waste 25%. Integrasi dengan pelabuhan Tanjung Priok efisienkan rantai pasok. Tren e-commerce makanan dorong demand 20%.
Risiko geopolitik global minim dampak karena fokus domestik. Kebijakan Trump 2025 pro-energi dukung ekspor kimia Indonesia. CDIA siap untung. Secara keseluruhan, akhir 2025-awal 2026 jadi momen emas infrastruktur. CDIA pimpin dengan fundamental solid, cocok investasi jangka panjang bagi trader Surabaya seperti Anda.
Diclaimer: Artikel ini hanya memberikan pandangan umum dan tidak merupakan rekomendasi investasi. Harga saham CDIA atau sektor terkait dapat berfluktuasi karena faktor pasar, regulasi, atau risiko yg tidak terduga. Selalu lakukan riset sendiri (DYOR), konsultasikan dengan penasihat keuangan berlisensi, dan pertimbangkan profil risiko pribadi sebelum berinvestasi.
Penulis adalah Mahasiswi Manajemen Bisnis Syari’ah Universitas Islam Jember (UIJ)



