Opini

Pesantren untuk Perdamaian Dunia: Jalan Peradaban dari Indonesia

Oleh: Dr. Aisyah Ajhury Al Hasani, M.Pd.I

Tema Pesantren untuk Perdamaian Dunia yang diangkat dalam Halaqah Pengasuh Pesantren se-Jawa Timur di UIN KHAS Jember bukan sekadar slogan seremonial. Tema tersebut adalah panggilan moral sekaligus refleksi mendalam bahwa pesantren memiliki kontribusi besar dalam menciptakan dunia yang lebih damai, manusiawi, dan berkeadaban.

Di tengah dunia yang dipenuhi konflik, polarisasi, perang identitas, dan krisis moral, pesantren justru hadir membawa nilai yang menenangkan: adab, toleransi, kasih sayang, dan penghormatan terhadap kemanusiaan. Pesantren mengajarkan bahwa ilmu bukan alat untuk membenci, melainkan sarana memuliakan manusia. Dalam kaidah ulama disebutkan:  الدِّينُ الْمُعَامَلَةُ وَالْأَدَبُ قَبْلَ الْعِلْمِ

“Agama adalah akhlak dalam bermuamalah, dan adab didahulukan sebelum ilmu.”

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri berulang kali menegaskan pentingnya pendidikan damai (peace education) dalam membangun masa depan dunia yang harmonis. Dalam semangat Sustainable Development Goals (SDGs), pendidikan inklusif, keadilan sosial, dan budaya damai menjadi agenda penting dunia internasional. Dalam konteks ini, pesantren sejatinya telah lama mempraktikkan nilai-nilai tersebut jauh sebelum menjadi wacana global.

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, pernah menegaskan bahwa dunia membutuhkan lebih banyak dialog dan solidaritas kemanusiaan dibanding kebencian dan perpecahan. Pernyataan ini sejalan dengan prinsip Al-Qur’an: وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Tokoh perdamaian dunia seperti Mahatma Gandhi juga pernah mengatakan, “Tidak ada jalan menuju perdamaian, perdamaian adalah jalannya.” Spirit inilah yang sesungguhnya hidup dalam tradisi pesantren Nusantara. Perdamaian bukan hanya slogan, tetapi cara hidup yang diajarkan sejak santri belajar menghormati guru, menghargai sesama, dan mengendalikan ego diri.

Dalam khazanah ulama pesantren dikenal ungkapan: مَنْ لَا أَدَبَ لَهُ لَا عِلْمَ لَهُ

“Siapa yang tidak memiliki adab, maka hakikatnya ia belum berilmu.”

Sementara itu, Nelson Mandela menegaskan bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Pesantren telah membuktikan hal tersebut selama ratusan tahun: mendidik masyarakat bawah, membangun moral bangsa, dan menjaga harmoni sosial tanpa kehilangan akar spiritualitasnya.

Dalam perspektif Islam, perdamaian merupakan inti ajaran agama itu sendiri. Kata “Islam” berasal dari akar kata salam yang bermakna damai. Rasulullah SAW membangun masyarakat Madinah bukan dengan kebencian, melainkan dengan Piagam Madinah yang menjunjung hidup berdampingan dan penghormatan terhadap keberagaman.

Allah SWT berfirman:  وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)

Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah menyampaikan bahwa Islam datang bukan untuk marah kepada dunia, tetapi untuk menghadirkan rahmat bagi seluruh alam. Pemikiran Gus Dur inilah yang hingga kini menjadi napas pesantren Nahdlatul Ulama: Islam yang santun, toleran, dan menghargai kemanusiaan.

Begitu pula KH. Hasyim Asy’ari yang menanamkan bahwa menjaga persatuan dan kemaslahatan umat merupakan bagian penting dari ajaran agama. Dalam prinsip pesantren dikenal kaidah besar:

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Mencegah kerusakan harus didahulukan daripada menarik kemaslahatan.”

Kaidah ini menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan pentingnya menjaga stabilitas sosial, kedamaian, dan keselamatan manusia.

Para Pengurus Bu Nyai Nusantara (BNN) Jember dan Jawa Timur

Dalam konteks global saat ini, dunia membutuhkan wajah Islam yang menenangkan, bukan menakutkan. Dan Indonesia melalui pesantrennya memiliki modal besar untuk menjadi contoh peradaban Islam yang damai. Perempuan pesantren, para bu nyai, dan generasi santri memiliki peran strategis dalam menjaga nilai-nilai tersebut agar tetap hidup di tengah arus ekstremisme, individualisme, dan krisis moral global.

Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan: الْعِلْمُ بِلَا عَمَلٍ جُنُونٌ وَالْعَمَلُ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَكُونُ

“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu tidak akan sempurna.”

Karena itu, tema “Pesantren untuk Perdamaian Dunia” bukanlah sesuatu yang berlebihan. Justru dari ruang-ruang sederhana pesantren, dari kitab-kitab kuning yang diajarkan dengan penuh adab, dari doa-doa para kiai dan bu nyai, lahir energi perdamaian yang sangat dibutuhkan dunia hari ini.

Pesantren mungkin tampak sederhana, tetapi nilai yang diwariskannya mampu melampaui batas negara dan zaman. Sebab ketika dunia sibuk mempertontonkan konflik, pesantren tetap mengajarkan cara menjadi manusia.

Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan Dakwah, Ketua Jam’iyyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighah (JPPPM) Kabupaten Jember, Koordinator Pemberdayaan Perempuan Ikatan Sarjana Nahdhatul Ulama’ (ISNU) Jawa Timur

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!