Opini

Pasca-Idul Fitri: Dari ‘Abdan Ramadhāniyyan Menuju ‘Abdan Rabbāniyyan

Oleh: Dr. Aisyah Ajhury Al Hasani, M.Pd.I

Pasca-Idul Fitri bukan sekadar fase setelah perayaan, tetapi ruang ujian bagi keaslian iman. Di titik inilah, kualitas spiritual seseorang dipertaruhkan: apakah ia hanya menjadi hamba musiman, atau benar-benar menapaki jalan kehambaan yang sejati.

Dalam khazanah ulama, terdapat ungkapan yang sangat dalam maknanya: كُنْ عَبْدًا رَبَّانِيًّا وَلَا تَكُنْ عَبْدًا رَمَضَانِيًّا

“Jadilah hamba yang Rabbani, dan jangan menjadi hamba yang hanya ‘hidup’ di bulan Ramadhan.”

Ungkapan ini dinisbatkan kepada Imam Ibn Rajab al-Hanbali sebagai bentuk kritik halus terhadap fenomena religiusitas musiman—yakni semangat ibadah yang memuncak di bulan Ramadhan, namun meredup setelahnya. Pesan ini sejalan dengan spirit nasihat para ulama besar seperti Imam Al-Ghazali yang menekankan pentingnya istiqamah dalam amal, serta Hasan al-Basri yang kerap mengingatkan bahwa tanda diterimanya amal adalah keberlanjutannya dalam ketaatan.

Pasca Idul Fitri, manusia dihadapkan pada realitas yang lebih kompleks. Tidak ada lagi atmosfer kolektif yang menopang ibadah seperti di bulan Ramadhan. Di sinilah makna ‘abdan rabbāniyyan menemukan relevansinya—yakni hamba yang tidak bergantung pada momentum, tetapi bertumpu pada kesadaran ilahiah yang terus hidup dalam dirinya.

Dalam perspektif lain, Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam karyanya Lathā’if al-Ma‘ārif menegaskan bahwa:

“Barangsiapa yang menyembah Allah hanya di bulan Ramadhan, maka sungguh ia telah keliru. Karena Tuhan Ramadhan adalah juga Tuhan di seluruh bulan.”

Pesan ini bukan sekadar retorika, tetapi penegasan teologis bahwa kontinuitas ibadah adalah indikator kejujuran iman.

Lebih jauh, Sufyan al-Thawri pernah mengingatkan bahwa menjaga amal setelah Ramadhan jauh lebih berat daripada melakukannya saat Ramadhan. Sebab pada saat itulah seseorang benar-benar diuji tanpa “bantuan suasana”.

Dari sini, pasca-Idul Fitri sejatinya adalah fase tahqiq al-‘ubudiyyah—pembuktian kehambaan. Apakah puasa telah melahirkan kesadaran, atau hanya meninggalkan kenangan? Apakah tilawah telah menumbuhkan kecintaan pada Al-Qur’an, atau sekadar menjadi rutinitas temporer?

Dimensi sosial pun tidak kalah penting. Tradisi saling memaafkan di hari raya harus bertransformasi menjadi etika sosial yang berkelanjutan. Sebagaimana diisyaratkan oleh Imam Al-Shafi’i bahwa kemuliaan seseorang bukan hanya pada ibadahnya, tetapi pada kemampuannya menjaga hubungan dengan sesama manusia.

Akhirnya, pasca-Idul Fitri adalah titik balik. Ia menuntut transformasi dari “spiritualitas musiman” menuju “spiritualitas eksistensial”. Dari sekadar semangat sesaat menuju komitmen sepanjang hayat.

Maka, menjadi ‘abdan rabbāniyyan bukanlah pilihan ringan, tetapi itulah tujuan sejati dari seluruh perjalanan Ramadhan. Karena pada akhirnya, yang dinilai bukanlah seberapa tinggi kita pernah naik, tetapi seberapa lama kita mampu bertahan di jalan itu.

Penulis adalah praktisi pendidikan dan dakwah, Koordinator Pemberdayaan Perempuan Ikatan Sarjana Nahdhatul Ulama’ (ISNU) Jawa Timur,  dan Ketua JPPPM (Jam’iyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighah) Kabupaten Jember

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!