Pendidikan

Rektor UIN KHAS Jember: Pelayanan Kampus Harus Tuntas, Bukan Sekadar Prosedur

Jember,  Portal Jawa Timur – Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Prof. Hepni, menegaskan bahwa tantangan utama perguruan tinggi saat ini tidak lagi sekadar menyelesaikan urusan administrasi, tetapi menghadirkan layanan yang cepat, ramah, profesional, dan solutif.

Baca Juga: Dari Jember untuk Dunia: Deklarasi Perdamaian Menggema di UIN KHAS Jember

Ia menjelaskan bahwa seiring dinamika zaman, ekspektasi publik terhadap layanan pendidikan tinggi—termasuk di UIN KHAS Jember—semakin meningkat. Masyarakat menuntut pelayanan yang tepat, cepat, ramah, profesional, dan tuntas.

Baca Juga: Keren! UIN KHAS Jember Perkuat Sistem Informasi Publik Berbasis Teknologi Digital

“Jadi layanan itu tidak lagi menyelesaikan masalah tanpa masalah, tetapi benar-benar selesai di kesekretariatan,” ujar Prof. Hepni saat membuka Workshop Penguatan Kesekretariatan dan Keprotokoleran Tahun 2026 di Hotel Royal Jember, Selasa (12/5/2026).

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa pelayanan berkualitas tidak boleh berhenti pada kepatuhan prosedural semata, melainkan harus menghadirkan solusi yang nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat. Menurutnya, setiap persoalan pada dasarnya memiliki jalan keluar.

“Jangan pernah berkata tidak ada solusi. Semua persoalan pasti ada jalan keluarnya,” ujarnya.

Prof. Hepni juga menekankan bahwa kesan pertama dalam pelayanan memiliki peran yang sangat menentukan citra institusi. Karena itu, tata kelola keprotokoleran menjadi aspek yang tidak bisa diabaikan. Bagi dia, bukan sekadar soal fasilitas, tetapi sikap dan cara menyambut tamu yang mencerminkan kualitas lembaga.

“Yang paling penting bukan suguhannya, tetapi pelayanannya. Tamu harus merasa dihormati sebagai manusia yang terhormat,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa profesionalitas di bidang kesekretariatan dan keprotokoleran berpengaruh langsung terhadap citra dan kewibawaan institusi. Semakin baik kualitas layanan yang diberikan, semakin kuat pula kepercayaan publik terhadap kampus.

“Semua yang datang harus merasa bahwa kampus ini hadir untuk menyelesaikan masalah mereka,” katanya.

Selain aspek teknis pelayanan, Prof. Hepni juga menyoroti pentingnya kesiapan sumber daya manusia, mulai dari penampilan, etika komunikasi, hingga penguasaan bahasa asing.

“Petugas protokoler merupakan representasi wajah institusi sehingga harus memiliki standar profesionalitas tinggi,” jelasnya.

Workshop tersebut berlangsung selama dua hari dengan menghadirkan sejumlah narasumber berkompeten.

Materi pertama bertajuk Smart Secretariat & Protocol: Integrasi AI untuk Layanan yang Adaptif dan Efektif disampaikan oleh Dr. Nawawi.

Materi kedua mengenai Siklus Keprotokolan: Integrasi Perencanaan, Pendampingan, dan Koordinasi Operasional dipaparkan oleh Ahmad Rofik.

Adapun sesi ketiga bertema Protocol & Precision: Seni Menjadi MC Formal yang Profesional disampaikan oleh Wiwin Riza Kurnia (Jbr-1/AAR).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!