Cak Saiful dan Jalan Sunyi Pengabdian: Dari Astra Hingga Memimpin Polije
Jember, Portal Jawa Timur – Menjelang akhir masa pengabdiannya sebagai Direktur Politeknik Negeri Jember (Polije), sosok Saiful Anwar, S.TP., MP tetap tampil sederhana dan bersahaja. Hampir delapan tahun memimpin kampus vokasi ternama itu, Cak Saiful —sapaan akrabnya— justru terlihat semakin tenang menjalani amanah, seolah jabatan hanyalah bagian kecil dari perjalanan pengabdian panjangnya di dunia pendidikan.
Baca Juga: Kisah Nanda Raih IPK 3,97 Wisuda Ke-48 Polije: Saya Baru Bisa Belajar Setelah Pukul 10 Malam
Tanpa terasa, kurang dari setahun lagi ia akan memasuki masa purna tugas sebagai Direktur Polije. Namun bagi Cak Saiful, pergantian jabatan bukan sesuatu yang perlu dirisaukan. Yang terpenting baginya adalah memastikan setiap amanah ditunaikan dengan sungguh-sungguh demi kemajuan institusi yang dicintainya.
Baca Juga: Wabup Djoko Susanto Sebut Polije Kebanggaan Jember
Perjalanan Cak Saiful di Polije memang bukan perjalanan singkat. Sebelum dipercaya menjadi Direktur Polije di periode pertama, ia telah lebih dulu mengabdi sebagai Wakil Direktur selama dua periode mendampingi Direktur Nanang Dwi Wahyono. Pengalaman panjang itulah yang membentuknya menjadi pemimpin matang, namun tetap rendah hati.
“Saya mengalir saja, menjalankan tugas seperti biasa sampai nanti saya purna tugas sebagai pimpinan,” ucapnya kepada media ini di Jember, Selasa (12/5/2026).
Bagi Cak Saiful, tidak ada jabatan yang abadi. Semua hanyalah fase kehidupan yang akan berganti pada waktunya. Karena itu, ia mengaku tak memiliki ambisi tertentu setelah tak lagi menjabat sebagai Direktur Polije. Ia memilih tetap berada di jalur yang selama ini dicintainya: dunia pendidikan.
Ia ingin terus mengajar, membimbing mahasiswa, dan berbagi ilmu kepada masyarakat. Bahkan ketika kelak benar-benar memasuki masa pensiun, Cak Saiful tetap berharap bisa menjadi pribadi yang memberi manfaat bagi banyak orang.
“Karena passion saya memang mengajar. Saya hanya ingin menjadi orang yang bermanfaat. Selama saya bisa bermanfaat bagi orang lain, dan masyarakat membutuhkan (ilmu) saya, saya siap. Filosofi pendidikan tetap saya gaungkan,” jelasnya.
Kecintaan Cak Saiful terhadap dunia pendidikan memang telah tumbuh sejak lama. Jalan hidup yang dipilihnya menjadi bukti bahwa pengabdian baginya lebih berharga daripada sekadar kenyamanan materi.
Sebelum meniti karier sebagai akademisi, Cak Saiful sempat bekerja di perusahaan kelapa sawit milik Astra di Pekanbaru, Riau, pada bagian produksi. Saat itu, pekerjaannya tergolong mapan dengan penghasilan yang jauh lebih besar dibanding profesi dosen pada masa itu.
Namun takdir membawanya kembali pulang kampung. Ia kemudian memilih menjadi dosen di STIPER, meski harus menerima penghasilan yang sangat kecil dibanding pekerjaan sebelumnya.
“Saya masih ingat, di sini (STIPER), sebulan hanya dapat Rp40 ribu. Di Astra waktu itu sudah Rp1 juta perbulan, itupun masih ada tunjangan,” kenangnya.
Keputusan itu mungkin terasa berat bagi sebagian orang. Tetapi bagi Cak Saiful, dunia pendidikan bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa. Hingga hari ini, semangat itu tetap menyala dalam dirinya.
Baginya, ikut mencerdaskan generasi bangsa merupakan kebahagiaan yang tak ternilai. Karena itulah, ia memilih meneguhkan langkah untuk terus mengabdi di jalur pendidikan: jalan sunyi yang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak lama (Jbr-1/AAR).



