Pendidikan

Kisah Nanda Raih IPK 3,97 Wisuda Ke-48 Polije: Saya Baru Bisa Belajar Setelah Pukul 10 Malam

Jember,  Portal Jawa Timur – Fernanda Dwi Harnita. Sosok ini layak berbangga diri dan dibanggakan. Pasalnya, nama ini menjadi perhatian hadirin yang memadati Gelora Perjuangan 45 dalam acara Rapat Terbuka Senat Politeknik Negeri Jember Wisuda ke-48 Ahli Madya, Sarjana Terapan, Magister Terapan Tahun Akademik 2025/2026, Ahad, 12 Oktober 2025.

Baca Juga: Dosen Polije Ditantang Buat Aplikasi Takaran Menu MBG

Nanda, sapaan akrabnya, adalah salah satu dari tiga nama yang diumumkan oleh Wakil Direktur Bidang Akademik Politeknik Negeri Jember (Polije), Surateno sebagai peraih IPK tertinggi untuk Magister Terapan, yakni 3,97.

Baca Juga: Wabup Djoko Susanto Sebut Polije Kebanggaan Jember

Nanda lahir di Jember ketika kalender menunjuk angka 2 Desember 1996. Ia adalah anak bungsu dari dua bersaudara pasangan Suharyono dan Sri Wahyuni (almarhumah).

Setelah lulus dari SMAN 5 Arjasa, Nanda langsung memilih Polije  sebagai tempat mengasah ilmu berikutnya, mengambil jurusan Manajemen Agribisnis.

Lulus S1 Polije, Nanda mencari pengalaman, bekerja di swasta selama dua tahun. Setelah itu ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S2 Polije, dengan jurusan yang sama pula.

“Saya memilih jurusan yang linier dengan S1 saya, karena saya ingin jadi dosen. Dan alhamdulillah sekarang selesai,” ucap Nanda melalui sambungan telepon, Senin (13/10/2025).

Tapi tentu bukan hal gampang Nanda merampungkan kuliahnya, lebih-lebih dengan raihan IPK tertinggi. Satu kata kunci yang muncul dari lisan Nanda terkait  dengan kesuksesannya: manajemen waktu.

“Jadi waktu saya, saya jadwal semua, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi,” terangnya.

Tidak gampang, memang. Sebab, Nanda sudah berkeluarga bahkan sudah punya anak sejak setahun sebelum kuliah S2 Polije. Waktu Nanda harus dibagi dua antara kuliah dengan keluarga.

Dua ‘tugas’ tersebut sama-sama penting, tidak boleh ditinggalkan salah satunya. Namun dengan semangatnya yang membaja, Nanda mampu menaklukkan waktu.

“Pulang kuliah, saya harus melayani keluarga, momong anak hingga tidur sekitar pukul 10 malam. Saya baru bisa belajar setelah pukul 10 malam hingga pukul 2 atau 3 dini hari,” jelasnya.

Tidak mudah, memang. Rutinitas itu ia lakukan setiap hari selama 2 tahun menempuh S2 di Polije, tentu letih. Tapi akhirnya keletihan itu terbayar lunas dengan raihan IPK 3,97.

“Saya ingin jadi dosen, semoga terkabul,” pungkasnya.

Tidak ada keinginan yang tertolak selagi diikhtiarkan dengan sungguh-sungguh: usaha secara lahir ditopang dengan doa yang tak pernah putus. Semoga (Aryudi AR).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!