Nuzulul Qur’an: Mengapa Wahyu Pertama Adalah “Iqra”?
Oleh : Dr. Aisyah Ajhury Al Hasani, M.Pd.I
Peristiwa turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad pada bulan Ramadan bukan sekadar awal kenabian, tetapi juga awal perubahan peradaban manusia. Wahyu pertama yang turun adalah firman Allah: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Pertanyaannya: mengapa wahyu pertama adalah perintah membaca? Padahal Nabi adalah seorang yang tidak bisa membaca tulisan.
Inilah salah satu rahasia besar Nuzulul Qur’an yang dijelaskan oleh para ulama.
- Mengapa Wahyu Pertama “Iqra”?
Ulama besar tafsir Fakhr al-Din al-Razi dalam Mafatih al-Ghayb menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa Islam dibangun di atas ilmu. Beliau berkata: ابتدأ الله الوحي بالأمر بالقراءة تنبيها على شرف العلم
“Allah memulai wahyu dengan perintah membaca sebagai isyarat tentang kemuliaan ilmu.”
Artinya, kebangkitan umat Islam sejak awal dibangun di atas ilmu pengetahuan.
Karena itu tidak mengherankan jika dalam beberapa abad setelah turunnya Al-Qur’an, lahir peradaban ilmu yang besar dalam sejarah Islam.
- Mengapa Nabi Ketakutan Saat Wahyu Turun?
Ketika wahyu pertama turun di Gua Hira, Nabi pulang dalam keadaan gemetar sambil berkata kepada istrinya: زملوني زملوني
“Selimuti aku, selimuti aku.” (HR. Muhammad ibn Ismail al-Bukhari)
Sebagian orang mungkin bertanya: mengapa Nabi yang mulia justru merasa takut?
Ulama besar seperti Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fath al-Bari bahwa ketakutan itu bukan karena kelemahan, tetapi karena besarnya tanggung jawab wahyu.
Beliau menulis bahwa Nabi menyadari bahwa sejak saat itu beliau memikul amanah besar untuk menyampaikan risalah kepada seluruh umat manusia.
Ini menunjukkan bahwa wahyu bukan sekadar kehormatan, tetapi juga amanah yang berat.
- Mengapa Al-Qur’an Turun di Bulan Ramadhan?
Allah berfirman: شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
“Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ulama tafsir menjelaskan bahwa Ramadhan dipilih karena ia adalah bulan penyucian jiwa. Ulama besar Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan dalam Lataif al-Ma’arif: اختص رمضان بنزول القرآن لأنه شهر تتهيأ فيه القلوب لقبول الهداية
“Ramadhan dikhususkan sebagai waktu turunnya Al-Qur’an karena pada bulan itu hati manusia lebih siap menerima petunjuk.” Artinya, puasa membersihkan hati, sehingga hati menjadi lebih mudah menerima cahaya wahyu.
- Mengapa Al-Qur’an Turun Bertahap?
Sebagian orang kafir dahulu mempertanyakan: Mengapa Al-Qur’an tidak turun sekaligus? Allah menjawab dalam Al-Qur’an: كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ
“Demikianlah agar Kami meneguhkan hatimu.” (QS. Al-Furqan: 32)
Ulama besar Ibn Kathir menjelaskan dalam Tafsir Ibn Kathir bahwa turunnya Al-Qur’an secara bertahap memiliki hikmah besar:
- Menguatkan hati Nabi dalam menghadapi ujian
- Menjawab persoalan yang muncul di masyarakat
- Memudahkan para sahabat menghafal dan mengamalkan
Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu yang hidup bersama realitas umat.
- Cara Sahabat Belajar Al-Qur’an
Generasi sahabat memiliki cara belajar Al-Qur’an yang sangat berbeda dengan umat sekarang. Sahabat Nabi Abdullah ibn Mas’ud berkata: كنا إذا تعلمنا عشر آيات لم نتجاوزها حتى نعمل بها
“Kami dahulu jika mempelajari sepuluh ayat, kami tidak melewatinya sampai kami mengamalkannya.”
Inilah sebabnya generasi sahabat menjadi generasi terbaik dalam sejarah Islam. Mereka tidak hanya membaca Al-Qur’an, tetapi hidup bersama Al-Qur’an.
Penutup: Apakah Al-Qur’an Masih Hidup di Tengah Kita?
Peristiwa Nuzulul Qur’an seharusnya membuat kita bertanya pada diri sendiri: Apakah Al-Qur’an hanya kita baca di bulan Ramadhan? Ataukah ia benar-benar menjadi pedoman hidup kita?
Ulama besar Hasan al-Basri pernah berkata: نزل القرآن ليعمل به فاتخذ الناس تلاوته عملاً
“Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, tetapi manusia justru menjadikan membacanya saja sebagai tujuan.”
Karena itu, memperingati Nuzulul Qur’an bukan hanya mengenang turunnya wahyu. Tetapi menghidupkan kembali Al-Qur’an dalam kehidupan umat.
Jika Al-Qur’an hidup dalam hati umat Islam, maka peradaban Islam juga akan kembali hidup.
Penulis adalah praktisi pendidikan dan dakwah, Koordinator Pemberdayaan Perempuan Ikatan Sarjana Nahdhatul Ulama’ (ISNU) Jawa Timur, dan Ketua JPPPM (Jam’iyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighah) Kabupaten Jember



