Emansipasi Kartini dan Otoritas Bunyai NU: Rekonstruksi Peran Perempuan dalam Tradisi Ahlussunnah wal Jama‘ah
Oleh: Dr. Nyai Hj. Aisyah Ajhury Al Hasani
Momentum peringatan Raden Ajeng Kartini setiap 21 April tidak hanya menjadi simbol historis perjuangan perempuan Indonesia, tetapi juga membuka ruang refleksi terhadap transformasi peran perempuan dalam kerangka sosial-keagamaan. Gagasan Kartini tentang pentingnya pendidikan, kebebasan berpikir, dan martabat perempuan menjadi fondasi awal bagi lahirnya kesadaran emansipatoris di Indonesia.
Dalam konteks tradisi Nahdlatul Ulama, spirit tersebut menemukan bentuk praksisnya dalam figur bunyai—perempuan ulama pesantren yang tidak hanya berperan domestik, tetapi juga menjadi aktor utama dalam transmisi ilmu, pembinaan moral, dan penguatan spiritual masyarakat. Salah satu tokoh sentral yang merepresentasikan hal ini adalah Nyai Khairiyah Hasyim (1908–1983), putri pertama dari KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan pesantren Tebuireng, Jombang.
Kartini: Emansipasi sebagai Kesadaran Intelektual
Kartini menempatkan pendidikan sebagai instrumen utama pembebasan perempuan. Dalam narasi pemikirannya, perempuan tidak boleh terkungkung oleh struktur sosial yang membatasi akses terhadap ilmu pengetahuan. Emansipasi dalam perspektif Kartini adalah upaya membangun kesadaran kritis agar perempuan mampu menjadi subjek dalam menentukan arah hidupnya.
Namun demikian, emansipasi tersebut memerlukan orientasi nilai. Al-Qur’an menegaskan:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ… إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ (QS. Al-Ḥujurāt: 13)
Nyai Khairiyah Hasyim: Genealogi, Keilmuan, dan Jejak Perjuangan
Sebagai putri pertama KH. Hasyim Asy’ari, Nyai Khairiyah Hasyim lahir pada tahun 1908 di Tebuireng, Jombang dan wafat pada tahun 1983. Ia tumbuh dalam atmosfer keilmuan pesantren yang kuat dan dididik langsung oleh ayahnya dalam penguasaan ilmu-ilmu keislaman, khususnya fiqh, akhlak, dan tradisi turats.
Perjalanan intelektual dan pengabdiannya menunjukkan keluasan visi yang melampaui zamannya:
* Fase awal (Tebuireng): Menempuh pendidikan langsung dalam lingkungan keluarga ulama besar
* Fase Mekkah: Bersama suaminya, KH. Abdul Muhaimin al-Lasemi, beliau mendirikan Madrasah lil-Banat, sebagai lembaga pendidikan perempuan di tanah suci
* Fase Jombang: Sepulang dari Mekkah, beliau mengembangkan Pesantren Putri Seblak Jombang, yang menjadi pelopor pendidikan pesantren khusus perempuan
Jejak ini menunjukkan bahwa beliau adalah arsitek penting dalam sejarah pendidikan perempuan pesantren.
Mengapa Nyai Khairiyah Hasyim Layak Menjadi Panutan Bunyai?
- Pionir Pendidikan Perempuan (Lokal dan Internasional). Beliau berhasil menghadirkan pendidikan perempuan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Mekkah—sebuah capaian luar biasa pada awal abad ke-20.
- Integrasi Ilmu, Adab, dan Spiritualitas. Beliau mendidik tidak hanya pada aspek intelektual, tetapi juga membangun karakter santri dengan adab dan kedalaman ruhiyah.
- Putri Ulama Besar, Namun Mandiri dalam Karya. Sebagai putri KH. Hasyim Asy’ari, beliau memiliki legitimasi genealogis yang kuat. Namun keutamaannya terletak pada kontribusi nyata yang ia bangun secara mandiri dalam dunia pendidikan.
- Agent of Change dalam Tradisi. Beliau menghadirkan pembaruan tanpa meninggalkan akar tradisi Ahlussunnah wal Jama‘ah. الْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيمِ الصَّالِحِ وَالأَخْذُ بِالْجَدِيدِ الأَصْلَحِ
- Simbol Perempuan Pesantren yang Visioner. Ketekunan, kemandirian, dan keberaniannya membuka akses pendidikan perempuan menjadikannya figur teladan lintas generasi.
Dialektika Kartini dan Nyai Khairiyah Hasyim
Relasi antara Raden Ajeng Kartini dan Nyai Khairiyah Hasyim bersifat komplementer:
* Kartini → membuka kesadaran emansipasi perempuan
* Nyai Khairiyah → mewujudkan emansipasi dalam praksis pendidikan dan keilmuan pesantren
Jika Kartini adalah gagasan, maka Nyai Khairiyah adalah implementasi nyata dalam tradisi Islam Nusantara.
Penutup
Momentum Hari Kartini menemukan makna yang lebih utuh ketika dikaitkan dengan figur bunyai NU seperti Nyai Khairiyah Hasyim. Emansipasi perempuan tidak berhenti pada kebebasan, tetapi mencapai kesempurnaannya dalam integrasi:
* ilmu (intelektual)
* adab (moralitas)
* ruhiyah (spiritualitas)
Nyai Khairiyah Hasyim adalah representasi perempuan yang tidak hanya memperjuangkan hak, tetapi juga membangun peradaban. Oleh karena itu, beliau layak menjadi panutan bunyai ideal—yang menjaga tradisi sekaligus menggerakkan perubahan.



