Gus Kikin Menguat ke Kursi Ketum PBNU, Akademisi Dorong NU Kembali ke Spirit Tebuireng
Jember, Portal Jawa Timur – Menguatnya nama KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) dalam bursa bakal calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU tahun 2026 mulai menuai respons dari berbagai kalangan, termasuk dunia akademik.
Salah satu dukungan datang dari Ketua Program Doktor Universitas Islam Darul ‘Ulum (Unisda) Lamongan, Jawa Timur, Prof. Babun Suharto. Menurutnya, Gus Kikin merupakan figur yang layak memimpin NU pada masa mendatang karena memiliki kombinasi kuat antara kapasitas keilmuan, garis keturunan ulama, serta pengalaman kepemimpinan organisasi.
Baca Juga: Dari Pakusari Jember, Spirit NU Menggema: Berkhidmah di Atas Segalanya
“Beliau seorang ulama dengan kapasitas keilmuan yang mumpuni, sekaligus cicit langsung Hadratus Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari,” ujar Prof. Babun di Jember, Jumat (8/5/2026).
Baca Juga: Delapan Dekade Muslimat NU Jember: Jejak Sunyi dari Pengajian Kampung ke Pemberdayaan Umat
Selain dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Gus Kikin dinilai memiliki legitimasi historis yang kuat dalam tubuh NU. Sebab, Tebuireng merupakan salah satu episentrum lahirnya Nahdlatul Ulama yang didirikan oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.
Prof. Babun menjelaskan, banyak tokoh sentral pendiri NU berasal dari Jombang. Selain Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, terdapat pula nama besar KH. Abdul Wahab Hasbullah yang menjadi bagian penting dari sejarah berdirinya organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Menurutnya, setelah era kepemimpinan KH. Abdurrahman Wahid, NU dalam beberapa dekade terakhir dipimpin oleh tokoh-tokoh dari luar Jombang. Meski demikian, ia tetap mengapresiasi kontribusi para pemimpin sebelumnya yang dinilai berhasil menjaga marwah dan arah organisasi.
“Mereka telah cukup baik menahkodai NU. Tetapi saat ini sudah waktunya NU kembali ke Tebuireng, kembali dipimpin oleh cicit Hadratus Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari,” tegasnya.
Lebih jauh, Prof. Babun menilai gaya kepemimpinan Gus Kikin selama memimpin PWNU Jawa Timur menunjukkan karakter yang teduh, komunikatif, dan mampu memperkuat basis struktur organisasi hingga tingkat bawah. Ia juga menyebut Gus Kikin memiliki wawasan luas serta kemampuan manajerial yang baik dalam mengelola organisasi besar seperti NU.
Salah satu indikator keberhasilan tersebut, lanjutnya, terlihat dari suksesnya pelaksanaan Mujahadah Kubro yang digelar PWNU Jawa Timur dalam rangka memperingati Satu Abad NU. Agenda besar itu dinilai mampu menghadirkan semangat persatuan Nahdliyin sekaligus memperkuat identitas ke-NU-an di tengah dinamika zaman.
“Mujahadah Kubro dalam rangka satu abad NU berjalan sukses dan menjadi bukti kemampuan beliau dalam mengonsolidasikan kekuatan jamaah,” katanya.
Mantan Ketua GP Ansor Jember itu berharap Muktamar ke-35 NU tidak hanya menjadi arena pergantian kepemimpinan semata, tetapi juga momentum melahirkan gagasan besar untuk masa depan organisasi.
Ia menekankan pentingnya memilih pemimpin yang visioner, memiliki akar tradisi pesantren yang kuat, namun tetap mampu menjawab tantangan zaman dan menjaga basis peradaban NU.
“Saya kira itu menjadi harapan seluruh warga NU, yakni lahirnya kepemimpinan yang mampu menjaga tradisi, merawat peradaban, dan membawa NU semakin maju,” pungkasnya.
Sekadar diketahui, PBNU telah menetapkan Muktamar ke-35 NU akan digelar pada 1–5 Agustus 2026. Sementara Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) sebagai agenda penyusunan materi muktamar dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026. Hingga kini, lokasi pelaksanaan Muktamar masih belum diputuskan (Jbr-1/AAR).



