News

Cicit Syaikhona Kholil Serahkan Tongkat dan Tasbih kepada Kiai Azaim Tandai Napak Tilas Isyarah Pendirian NU

Jember, Portal Jawa Timur – Penyerahan replika tongkat dan tasbih oleh cicit Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, RKH Fakhruddin Aschal, kepada cucu KH. As’ad Syamsul Arifin, KHR Achmad Azaim Ibrahimi menandai dimulainya Napak Tilas Isyarah Pendirian NU tahun 2026. Prosesi tersebut dilangsungkan di Pondok Pesantren Syaikhona Muhammad Kholil, Demangan Barat, Bangkalan, Jawa Timur, Ahad (4/1/2026).

Selanjutnya, replika tongkat dan tasbih itu oleh Kiai Azaim diantarkan kepada kepada Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, KH Abdul Hakim, cicit pendiri NU, Syaikhona Muhammad Hasyim Asy’ari.

Pondok Pesantren Syaikhona Muhammad Kholil, Demangan Barat, Bangkalan menjadi titik pemberangkatan peserta Napak Tilas Isyarah Pendirian NU menuju Pesantren Tebuireng Jombang. Bangkalan-Jombang merupakan jalur yang dilalui oleh kakek Kiai Azaim, KH As’ad Syamsul Arifin untuk menyerahkan tasbih titipan dari Syaikhona Muhammad Kholil kepada Syaikhona Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai isyarat restu pendirian NU.

Pelepasan rombongan Napak Tilas Isyarah Pendirian NU dilakukan langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Kholil Staquf. Dalam doa pelepasan, Gus Yahya memohon keberkahan bagi Rasulullah SAW, Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, serta para pendiri Nahdlatul Ulama.

Bijahi Sayidina Rasulillah Muhammadin shallallahu ‘alaihi wasallam. Berkati Sayidina Syekh Kiai Muhammad Kholil bin Abdul Latif al-Bangkalan. Berkati jami‘ muassisi Jam‘iyati Nahdlatil Ulama,” ucapnya menutup doa.

Sementara itu, Ketua Umum Pondok Pesantren Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, RKH Muhammad Nasih Aschal, menjelaskan bahwa kegiatan napak tilas ini dimulai dari Bangkalan karena memiliki keterkaitan historis yang sangat kuat dengan lahirnya NU.

“Syaikhona Muhammad Kholil adalah pemberi restu atas lahirnya jam’iyah ini melalui perintah yang beliau sampaikan kepada santrinya, Kiai As’ad Syamsul Arifin, untuk berjalan dari Bangkalan menuju Pondok Pesantren Tebuireng. Hari ini, kita ingin mengulang kembali sejarah itu,” ujar Kiai Nasih dalam sambutannya.

Ia menegaskan bahwa napak tilas tersebut bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan ikhtiar menghidupkan kembali nilai-nilai spiritual dan perjuangan yang melandasi berdirinya NU sebagai wadah besar umat Islam di Nusantara.

“Hari ini kita ingin menceritakan kembali bahwa pendirian Jam’iyah Nahdlatul Ulama tidak hanya lahir dari cerita tongkat dan tasbih, tetapi juga mengandung berbagai makna dan hikmah yang sangat dalam,” ungkapnya.

Menurutnya, Syaikhona Muhammad Kholil bukan hanya inspirator lahirnya NU, tetapi juga sosok ulama besar dengan kedalaman ilmu, keluasan wawasan, dan pemikiran visioner yang hingga kini terus menjadi sumber semangat bagi warga NU dalam mendidik dan menjaga umat.

“Kami memaknai Syaikhona Muhammad Kholil bukan sekadar sebagai pahlawan nasional, tetapi sebagai penyemangat abadi agar kita terus berkhidmah untuk umat,” lanjutnya.

Kiai Nasih juga meluruskan pemaknaan tongkat dan tasbih yang selama ini dikenal sebagai isyarah pendirian NU. Ia menegaskan bahwa keduanya tidak sekadar simbol, melainkan panduan spiritual yang lahir dari proses istikharah Syaikhona Muhammad Kholil, kemudian diwujudkan dalam isyarah dan berujung pada bisyarah atau kabar gembira bagi keselamatan umat.

“Istikharah ini adalah proses penyampaian pesan penting tentang kewajiban menjaga umat. Isyarah tersebut juga menjadi pesan kuat bagi seluruh Nahdliyin bahwa NU, dalam kondisi apa pun, akan senantiasa mendapatkan aliran doa dari para masyaikh dan wali Allah,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa dalam penyerahan tongkat dan tasbih, Syaikhona Muhammad Kholil juga menyertakan ayat Al-Qur’an sebagai pengingat agar umat senantiasa berpegang pada tuntunan para ulama. Ia turut mengingatkan maqolah Syaikhona Kholil, al-‘ashā liman ‘aṣā, yang dimaknai sebagai peringatan agar umat tunduk pada bimbingan alim ulama.

“Ini menjadi pesan yang sangat relevan bagi kita hari ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kiai Nasih menegaskan bahwa bisyarah tidak boleh dimaknai secara sempit sebagai urusan materi. Menurutnya, bisyarah sejati adalah kabar gembira berupa jaminan keselamatan hidup di dunia dan akhirat bagi mereka yang mengikuti jalan para masyaikh dan pendiri NU.

“Ketika kita mengikuti Syaikhona Muhammad Kholil, Kiai Hasyim Asy’ari, dan para muassis NU, insyaallah hidup kita akan menjadi sa‘īdun fid-dunyā wa sa‘īdun fil ākhirah,” tuturnya (Jbr-1/AAR).

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!