Bias Pembangunan Global: Mengapa Negara Berkembang Sulit Keluar dari Bayang-Bayang Negara Maju?
Oleh: Maya Heryani

Pembangunan ekonomi global sering dipresentasikan sebagai proses yang netral dan universal, di mana setiap negara dianggap memiliki peluang yang sama untuk tumbuh dan menjadi negara maju selama mengikuti “resep” yang benar. Namun, realitasnya menunjukkan cerita yang berbeda. Negara maju terus memperkokoh posisinya, sementara banyak negara berkembang tetap terjebak dalam ketertinggalan struktural. Fenomena ini bukan semata kegagalan domestik, melainkan cerminan dari bias pembangunan global yang telah lama tertanam dalam sistem ekonomi dunia.
Selama puluhan tahun, negara-negara berkembang terjebak dalam perlombaan lari yang garis finishnya terus digeser secara sepihak. Kita diminta mengejar standar kemajuan yang didefinisikan di gedung-gedung pencakar langit seolah kemakmuran hanyalah resep masakan yang bisa disalin mentah-mentah. Tersimpan bias sistematik yang memastikan bayang-bayang negara maju tetap panjang, sementara negara berkembang dipaksa merasa cukup hanya dengan menjadi pengikut.
Kriteria ekonomi global membedakan antara negara maju dan negara berkembang berdasarkan indikator-indikator seperti pendapatan per kapita, diversifikasi ekspor, dan indikator pembangunan manusia (IPM). Menurut Bank Dunia, negara dengan pendapatan per kapita di atas sekitar US$ 13.845 per tahun dikategorikan sebagai negara maju, sedangkan yang di bawah angka ini termasuk negara berkembang. Banyak negara berkembang memiliki PDB per kapita jauh di bawah ambang tersebut misalnya Indonesia yang masih berada di kelompok negara berpendapatan menengah ke atas dengan PNB per kapita kurang dari US$ 5.000 (Bank Dunia, 2025).
Hal ini di mana pembangunan yang terjadi tidak dimulai dari titik yang sama. Teori modernisasi klasik seperti tahapan pertumbuhan Rostow mengasumsikan bahwa semua negara dapat mengikuti jalur pembangunan yang sama seperti negara maju. Namun, asumsi ini mengabaikan fakta Sejarah. Negara-negara maju membangun industrinya melalui proteksi, subsidi, dan berkembang memasuki sistem global ketika aturan perdagangan, investasi, dan keuangan sudah lebih ketat dan berpihak pada mreka yang lebih kuat secara ekonomi dan teknologi.
Pendekatan teori ketergantungan Frank Cardoso menjelaskan bahwa negara berkembang sering berperan sebagai pemasok bahan mentah dan pasar bagi produk negara maju. Pola ini menciptakan hubungan asimetris yang membuat nilai tambah dan inovasi terpusat dinegara maju, sementara negara berkembang sulit naik kelas dalam rantai global. Bias ini terlihat jelas dalam struktur perdagangan dan produksi global, dimana lebih dari 70% nilai tambah dalam perdagangan global dikendalikan oleh perusahaan dari negara maju,. Ekspor negara berkembang masih didominasi komoditas primer dan manufaktur berteknologi rendah, sementara negara maju menguasai ekspor berteknologi tinggi, jasa modern, dan hak kekayaan intelektual. Belanja riset dan pengembangan (R&D) serta kepemilikan paten global juga sangat terkonsentrasi di negara maju, menciptakan kesenjangan inovasi yang sulit untuk dikejar.
Mengakui adanya bias Pembangunan global harus diikuti dengan langkah konstruktif. Negara berkembang perlu merumuskan strategi pembangunan yang lebih berdaulat dan transformatif. Seperti berinvestasi besar pada sumber daya manusia dan inovasi. Pendidikan, pelatihan vokasi, dan riset harus menjadi fondasi pembangunan agar negara berkembang tidak bergantung pada impor teknologi. Serta mengurangi ketergantungan pada eksternal dan memperkuat pasar domestik. Disverifikasi ekonomi, penguatan UMKM, dan pembangunan industri lokal untuk meningkatkan ketahanan ekonomi dan memperluas distribusi manfaat pembangunan
Hilirisasi dan kedaulatan sumber daya juga perlu dilakukan. Kebijakan berani untuk mengolah kekayaan alam didalam negeri harus tetap dipertahankan, meskipun mendapat tekanan dari organisasi perdagangan internasional. Nilai tambah harus dinikmati oleh penduduk lokal, bukan hanya oleh pemegang saham perusahaan multinasional.
Memajukan negara berkembang bukanlah soal mengejar ketertinggalan, malainkan tentang membangun jalan pembangunan yang sesuai dengan kondisi struktural dan kepentingan nasional masing-masing. Ditengah bias pembangunan global, keberhasilan negara berkembang sangat ditentukan oleh keberanian untuk menata ulang strategi pembangunan dari ketergantungan menuju kemandirian, dari pertumbuhan semu menuju transformasi yang lebih nyata.
Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang



