Pendidikan

Langkah Senyap Cak Saiful: Bangun Polije Jadi Kampus Vokasi Berkelas Industri

Jember,  Portal Jawa Timur – Saiful Anwar, S.TP., MP., tetap tampil bersahaja dan low profile. Langkahnya nyaris tanpa gaduh, namun jejak kerjanya nyata terlihat. Di bawah kepemimpinannya, Politeknik Negeri Jember (Polije) melaju cepat menuju perguruan tinggi vokasi yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing tinggi.

Kini, Polije bahkan mulai bersiap menapaki fase baru menuju status Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH), level tertinggi otonomi perguruan tinggi negeri di Indonesia. Jika Badan Layanan Umum (BLU) masih berada dalam kerangka satuan kerja pemerintah dengan fleksibilitas pengelolaan tertentu, maka PTNBH memberi kewenangan yang jauh lebih luas dalam pengelolaan akademik, organisasi, sumber daya manusia, hingga keuangan secara mandiri.

Baca Juga: Cak Saiful dan Jalan Sunyi Pengabdian: Dari Astra Hingga Memimpin Polije

“Polije pelan-pelan melangkah menuju ke sana (PTNBH),” ujar Cak Saiful di Jember, Selasa (12/5/2026).

Menurutnya, meski saat ini Polije masih berstatus BLU, jalan menuju PTNBH terus dibuka secara serius dan terukur. Sejak lama, ia bersama jajaran pimpinan bekerja konsisten membangun fondasi kemandirian kampus, mulai dari penguatan sumber pendapatan, pengelolaan aset, hingga optimalisasi kualitas SDM dan tata kelola finansial.

“Dan Polije sudah di-endorse mendapatkan fasilitas mandatori PTNBH. Jadi (Polije) 80 persen sudah mandiri. Target saya tahun 2029 Polije sudah PTNBH,” jelasnya.

Optimisme itu bukan tanpa alasan. Cak Saiful menilai Polije memiliki modal besar untuk bertransformasi menjadi PTNBH, baik dari sisi kualitas sumber daya manusia maupun dukungan lahan kampus yang luas dan strategis.

Lebih dari itu, Polije memiliki kekuatan khas yang tidak banyak dimiliki perguruan tinggi vokasi lain, yakni pengembangan konsep teaching factory. Melalui konsep ini, lingkungan kampus dirancang menyerupai dunia industri nyata. Mahasiswa tidak hanya belajar teori di ruang kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam proses produksi barang maupun jasa dengan standar industri profesional.

Praktik pembelajaran di Polije bukan lagi sekadar simulasi. Teaching factory telah bergerak layaknya industri sesungguhnya: memiliki target produksi, melayani konsumen riil, dan mampu menghasilkan nilai ekonomi.

“Sekarang yang sudah ada, di antaranya bengkel Autohub, khusus melayani kendaraan listrik, pabrik roti, dan sebagainya,” urainya.

Untuk menopang visi besar tersebut, Cak Saiful juga menyiapkan master plan pengembangan fisik kampus dengan mengoptimalkan lahan Polije seluas 38 hektare. Di kawasan belakang kampus, direncanakan pembangunan sejumlah pabrik penunjang teaching factory. Bahkan akses khusus untuk truk tronton juga disiapkan guna mendukung distribusi bahan baku dan hasil produksi industri kampus.

“Ada green house 1 hektare, ada pabrik susu UHT, dan sebagainya. Pabrik-pabrik itu yang akan menguatkan kompetensi skill adik-adik mahasiswa. Praktiknya sudah bukan ecek-ecek lagi tapi sudah berskala industri,” pungkasnya.

Gagasan boleh dirancang, peta jalan boleh disusun. Namun boleh jadi, Cak Saiful tidak akan sepenuhnya menikmati hasil besar dari cita-cita itu. Masa pengabdiannya sebagai Direktur Polije tinggal menghitung waktu sekitar setahun lagi. Tetapi baginya, pengabdian tidak selalu tentang siapa yang memetik hasil. Sebab orang yang menanam pohon tak harus menjadi orang yang menikmati buahnya. Yang terpenting, pohon itu kelak tumbuh rindang dan memberi manfaat bagi banyak orang (Jbr-1/AAR).

Related Articles

Back to top button
error: Content is protected !!