Dorong Moderasi Beragama di Lumajang, Gus Mas’ud Ciptakan Kaliber 99
Lumajang, Portal Jawa Timur – Kaliber 99 bukan nama ukuran peluru tapi nama sebuah program moderasi beragama yang digagas oleh Muhammad Mas’ud. Kaliber 99 adalah akronim dari Kawasan Literasi Beragama. Sedangkan angka 99 merujuk pada asmaul husna, yakni sifat-sifat Allah.
Gus Mas’ud, sapaan akrabnya, yang merupakan Penyuluh Agama Islam Kecamatan Rowokangkung Kabupaten Lumajang Jawa Timur ini mengaku tertarik membuat Kaliber 99 karena dipicu oleh keinginannya untuk berkontribusi dalam menciptakan kerukunan dan harmoni lintas agama, khususnya di kawasan Rowokangkung.
Baca Juga: Cegah Radikalisme Beragama, UIN KHAS Jember Gelar Training of Trainers Penguatan Moderasi Beragama
Latar belakang agama penduduk Kecamatan Rowokangkung didominasi oleh Islam dan Katolik. Perbedaan agama di Rowokangkung, dan Indonesia umumnya hampir tidak menjadi masalah, namun bukan tanpa risiko. Sebab jika menyangkut aqidah, hal-hal sepele terkadang bisa menjadi sumbu pendek bagi tersulutnya api kemarahan hingga meluluh-lantakkan persatuan, bahkan fasilitas umum.
Baca Juga: Rektor UIN KHAS Jember, Prof Hepni Sebut Moderasi Beragama Butuh Keteladanan Bukan Cuma Teori
“Karena di Rowokangkung, 70 persen penduduknya adalah petani dan lintas agama juga, nah untuk membangun sebuah harmoni dan penguatan moderasi, maka media pertanian kami jadikan alat pemersatu,” ucapnya di Lumajang, Jumat (16/5/2025).
Gus Mas’ud cukup simpel dalam menciptakan harmoni antar umat beragama di Rowokangkung. Bukan dengan retorika tapi dengan mengajak petani Muslim dan petani Nasrani -khususnya di Desa Kedungrejo- untuk berkolaborasi dalam bercocok tanam di sawah. Ia yakin bahwa keharmonisan yang terjadi antara petani Muslim dan petani Nasrani di sawah akan terbawa sampai ke rumah dan lingkungan sekitarnya. Program ini ibaratnya sekali mendayung dua pulau terlampaui.
“Pertama secara ekonomi mereka menghasilkan produk pertanian di sawah. Kedua mereka tambah rukun dan bisa hidup berdampingan dengan damai dan aman,” tambahnya.
Mereka mengolah tanah bersama dengan modal patungan, dan menanami sawah juga bersama. Sampai di titik ini sekat-sekat perbedaan agama, sudah terkikis. Tentu tanaman yang dipilih adalah tanaman holtikultura yang menjadi kebutuhan rumah tangga sehari-hari misalnya sayuran, tomat, bawang, dan sebagainya.
“Kami dorong masyarakat untuk membeli sayur langsung di lahan pertanian atau sawah, dengan apa yang disebut Gerbastani, yaitu gerakan belanja sayur di lahan pertanian,” ujarnya.
Masyarakat tertarik untuk membeli sayur langsung di sawah yang digarap oleh dua penganut agama berbeda itu. Pasalnya, sayur dan lainnya di situ harganya lebih murah karena tidak melalui distributor tapi langsung kepada penggarap, yaitu petani.
“Mereka bisa memetik sendiri, dan bayar di tempat. Jadi ini juga melatih kejujuran, meningkatkan keharmonisan sekaligus menghemat biaya,” urai Gus Mas’ud.
Untuk itu semua tentu saja tidak sekali jadi, tapi ada tahapan edukasi pertanian dan sebagainya. Gus Mas’ud memaksimalkan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) di desa setempat. Di situlah, ia selaku penyuluh agama Islam bersinergi dengan penyuluh pertanian mengedukasi para petani lintas iman.
“Mereka bisa bertani, dan nilai-nilai moderasi keberagamannya juga tertanam. Yang mereka hasilkan bukan hanya produk yang menarik namun juga ada nilai spiritual. Di situ kesadaran beragama semakin meningkat dan harmoni ini juga semakin mantap,” pungkasnya (Jbr-1/AAR).



