Pendidikan

Rektor Halid Sebut UIJ Cetak Generasi Ilmuan Sekaligus Pengawal dan Pengamal Aswaja

Jember,  Portal Jawa Timur – Universitas Islam Jember (UIJ) tidak hanya mencetak lulusan dengan kualifikasi unggul di bidangnya, tapi sekaligus membekali mereka dengan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang luas.

Baca Juga: Tertarik Konten Karya Mahasiswa UIJ, Tiga Volunteer Asing Kunjungi Kampus Tersebut

Hal tersebut diungkapkan oleh Rektor UIJ, Dr. Ahmad Halid saat memberikan sambutan seminar nasional di auditorium Miftahul Ulum, kompleks kampus 1UIJ, Jalan Kiai Mojo Kaliwates Kabupaten Jember, Kamis, 2 Oktober 2025.

Baca Juga: Faperta UIJ Gelar Reuni Akbar, Endang: Bukan Sekadar Ajang Nostalgia

Menurut Halid,  mahasiswa UIJ tidak hanya dibekali dengan kemampuan akademis tapi juga ajaran Aswaja yang ditanamkan begitu rupa di dada mereka sehingga lulusan UIJ diproyeksikan sebagai pengawal sekaligus pengamal nilai-nilai Aswaja.

“Mahasiswa UIJ bukan hanya dibekali teori akademis, tapi juga dilatih terampil dalam amaliah NU. Inilah ciri khas kampus kita, yang ingin melahirkan generasi ilmuwan sekaligus pengamal nilai Aswaja,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Aswaja An-Nahdliyah UIJ, Agus Zainudin menekankan pentingnya Aswaja sebagai fondasi ideologi yang kokoh bagi para mahasiswa sehingga tidak mudah goyah meski dihantam badai budaya sekeras apapun. Karena itu, Aswaja menjadi materi wajib bagi mahasiswa UIJ.

“UIJ adalah ruang belajar sekaligus laboratorium praksis Aswaja. Mahasiswa harus punya bekal kuat untuk mengamalkan nilai-nilai NU di tengah masyarakat,” katanya.

Seminar yang mengusung tema Penguatan Aswaja An-Nahdliyah bagi Mahasiswa Secara Teoritik dan Praktik tersebut menghadirkan Erfan Muktasim sebagai narasumber.

Dalam paparannya ia mengungkapkan bahwa moderasi beragama bukan sesuatu yang tabu bagi warga NU. Memang, ada sebagian kalangan yang menilai moderasi beragama dapat melemahkan keyakinan mengingat harus berbaur dengan penganut agama lain.

Namun dalam pandangan Erfan, moderasi beragama justru memperkuat ciri khas NU sebagai pilar kebersamaan dan kerukunan di tanah Nusantara yang notabene dihuni beragam etnis, budaya, suku, dan penganut agama.

“Moderasi beragama itu bagian dari Aswaja. Tawassuth, tawazun, dan tasamuh adalah nilai-nilai yang menjaga umat tetap kokoh di tengah perbedaan. Mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam menghidupkan spirit itu,” pungkasnya (Jbr-1/AAR).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!