Dari Sayyidah Hajar hingga Umur Historis, Tausiyah Inspiratif dari Bunyai Aisyah Ajhury
Jember, Portal Jawa Timur – Pengajian rutin Muslimat NU Ranting Manggisan yang dilaksanakan di Balai Desa Manggisan berlangsung dengan khidmah. Kegiatan yang telah menjadi agenda istikamah Muslimat NU itu dihadiri ratusan jamaah dari berbagai kalangan.
Baca Juga: Ning Aisyah Raih Gelar Doktor: Babak Baru Intelektual Pesantren dalam Ranah Keadilan Waris Madura
Selain menjadi wadah memperdalam ilmu agama, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahim serta memperkuat nilai-nilai keagamaan di tengah kehidupan masyarakat.
Baca Juga: Dari Pendopo Jember, Bu Nyai Pesantren Didorong Tampil sebagai Pemimpin Peradaban
Acara tersebut mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Desa Manggisan dan dihadiri oleh Eka Mahmudi Ningsih serta Hj. Siti Romlah bersama jajaran pengurus Muslimat NU. Kehadiran para tokoh dan pengurus organisasi perempuan Nahdlatul Ulama itu semakin menambah semarak kegiatan yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan kebersamaan.

Dalam kesempatan tersebut, tausiyah disampaikan oleh Dr. Nyai Hj. Aisyah Ajhury Al Hasani, M.Pd.I, yang dikenal luas sebagai akademisi dan dai perempuan dengan ciri khas kedalaman ilmu agama serta ketajaman analisis keilmuan. Penyampaian materi yang lugas, sistematis, dan mudah dipahami membuat para jamaah mengikuti pengajian dengan penuh perhatian.
Mengangkat tema “Ketangguhan perempuan dalam perspektif Islam” Bunyai Aisyah mengajak jamaah untuk meneladani sosok Sayyidah Hajar, perempuan agung yang tetap tegar meskipun ditinggalkan di padang tandus bersama putranya, Nabi Ismail AS.
Menurutnya, Sayyidah Hajar tidak pernah mempertanyakan takdir Allah dengan nada keluh kesah. Sebaliknya, ia menjadikan keyakinan kepada Allah sebagai sumber kekuatan. Ketika Nabi Ibrahim AS meninggalkannya atas perintah Allah, Hajar hanya memastikan bahwa keputusan tersebut berasal dari Allah SWT. Setelah mengetahui bahwa itu adalah perintah Allah, ia berkata penuh keyakinan:
“Kalau demikian, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
“Di sinilah letak kekuatan perempuan mukminah. Ketika manusia melihat kesulitan, orang beriman melihat pertolongan Allah. Ketika manusia melihat jalan buntu, orang beriman melihat peluang hadirnya mukjizat Allah,” tutur Bunyai Aisyah.
Praktisi pendidikan itu menjelaskan bahwa perjuangan Sayyidah Hajar berlari antara Shafa dan Marwah mengajarkan bahwa tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha. Justru tawakal yang benar adalah ikhtiar maksimal yang dibingkai dengan keyakinan penuh kepada Allah SWT. Nilai inilah yang menurutnya relevan untuk diterapkan oleh perempuan muslimah dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan, baik dalam keluarga, pendidikan, maupun pengabdian sosial di masyarakat.
link video terkait:
Silaturahmi yang Melapangkan Rezeki dan Memperpanjang Keberkahan Umur
Di bagian lain, Bunyai Aisyah menegaskan bahwa pengajian rutin Muslimat NU memiliki fungsi sosial dan spiritual yang sangat penting. Selain menjadi majelis ilmu, kegiatan tersebut merupakan sarana mempererat silaturahmi antarsesama muslimah.
Ia lalu mengutip hadis Rasulullah SAW:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut Bunyai Aisyah, silaturahmi menghadirkan keberkahan yang tidak selalu diukur dengan materi, tetapi juga ketenangan hati, keluasan relasi, kemudahan urusan, dan keberlanjutan manfaat hidup seseorang. Karena itu, majelis-majelis keagamaan seperti yang diselenggarakan Muslimat NU memiliki peran strategis dalam membangun solidaritas sosial sekaligus memperkuat ketahanan spiritual masyarakat.
Empat Dimensi Umur Manusia
Dengan pendekatan yang ilmiah dan mudah dipahami, Bunyai Aisyah kemudian menjelaskan bahwa umur manusia tidak hanya sebatas angka yang tercatat dalam identitas kependudukan.
Ia membagi umur manusia menjadi empat dimensi. Pertama, umur kronologis, yaitu umur berdasarkan hitungan tahun sejak seseorang lahir.
Kedua, umur biologis, yaitu kondisi kesehatan tubuh dan fungsi organ seseorang.
Ketiga, umur psikologis, yaitu tingkat kematangan mental, kecerdasan emosional, dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.
“Keempat, umur historis, yaitu umur yang diukur dari warisan manfaat, karya, dan pengabdian yang tetap hidup meskipun seseorang telah meninggal dunia,” jelasnya.
Penjelasan tersebut mendapat perhatian besar dari jamaah karena memberikan perspektif yang lebih luas tentang makna kehidupan dan pentingnya meninggalkan jejak kebaikan yang bermanfaat bagi generasi berikutnya.
Bunyai Aisyah lalu mencontohkan sosok KH Abdul Hannan, ulama kharismatik pendiri Pondok Pesantren Fatihul Ulum Manggisan yang juga merupakan kakeknya. Katanya, KH Abdul Hannan dikenal sebagai ulama yang memiliki keterkaitan keilmuan dengan lingkungan Pondok Pesantren Sidogiri, dan menjadi pelopor pengembangan pendidikan Islam di wilayah Manggisan.
Bunyai Aisyah menjelaskan, meskipun KH Abdul Hannan telah wafat, namun umur historis dia terus hidup melalui pesantren yang didirikannya, para santri yang dibinanya, serta nilai-nilai keilmuan dan perjuangan yang diwariskannya kepada generasi penerus.
Selain itu, Bunyai Aisyah juga mencontohkan sosok Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid, ulama besar yang hingga kini tetap dicintai masyarakat. Makam beliau di Tanggul senantiasa dipenuhi para peziarah dari berbagai daerah.
“Para ulama telah mengajarkan kepada kita bahwa manusia terbaik bukanlah yang paling panjang usianya, tetapi yang paling panjang manfaatnya. Inilah hakikat umur historis yang harus dibangun oleh setiap Muslim,” tegasnya.
Kegiatan pengajian ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah antarjamaah. Melalui pengajian rutin yang dilaksanakan di Balai Desa Manggisan tersebut, Muslimat NU terus meneguhkan perannya sebagai garda terdepan dalam membangun keluarga, masyarakat, dan peradaban yang berlandaskan ilmu, akhlak, serta nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah (Jbr-1/AAR).



