News

Di Haul Majemuk Masyarakat Babatan, Ning Aisyah Paparkan Lima Alam yang Akan Dilalui Manusia

Jember,  Portal Jawa Timur –Suasana religius, khidmah, dan penuh kekhusyukan menyelimuti kegiatan pengajian akbar yang digelar Sabtu (20/6/2026) malam di musala Al Inabah, Babatan Jenggawah Kabupaten Jember.

Kegiatan yang dipadati jamaah dari berbagai daerah tersebut berlangsung dengan penuh kekhidmatan di bawah khidmah Fathor Rosyid yang juga dikenal sebagai Ketua LAZISNU Jember. Hadir pula sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama, di antaranya KH. Sucipto selaku Ketua MWC NU Jenggawah dan KH. Juwaini Dimyati selaku Ketua Syuriah MWC NU Jenggawah.

Pada kesempatan tersebut, tausiyah utama disampaikan oleh Dr. Nyai Hj. Aisyah Ajhury Al Hasani, M.Pd.I, dosen Sastra Arab Fakultas Ushuluddin, Adab dan Humaniora UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember.

Dalam pemaparannya, ia mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak berhenti pada alam dunia semata. Setiap manusia pasti akan melewati lima fase kehidupan yang telah ditetapkan Allah SWT.

Pertama adalah alam ruh, yaitu alam sebelum manusia dilahirkan ke dunia. Pada alam ini seluruh ruh anak cucu Nabi Adam AS telah bersaksi atas keesaan Allah SWT.

Allah SWT berfirman: وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ شَهِدْنَا

“Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, ‘Benar, kami bersaksi’.” (QS. Al-A’raf: 172)

Kedua adalah alam rahim, yaitu fase ketika manusia berada dalam kandungan ibunya. Pada fase inilah Allah SWT membentuk dan menyempurnakan penciptaan manusia sebelum dilahirkan ke dunia.

Ketiga adalah alam dunia, tempat manusia menjalani ujian kehidupan. Dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan ladang amal yang menentukan kebahagiaan atau kesengsaraan seseorang di akhirat kelak.

“Harta, dan kedudukan hanyalah titipan yang akan ditinggalkan. Yang akan dibawa menghadap Allah SWT hanyalah iman dan amal saleh,” ucap Ning Aisyah, sapaan akrabnya.

Keempat adalah alam barzakh, yaitu kehidupan setelah kematian hingga datangnya hari kebangkitan. Pada fase ini manusia mulai merasakan balasan dari amal yang pernah dilakukannya selama hidup di dunia.

Penjelasan mengenai alam barzakh membuat suasana majelis menjadi sangat hening. Banyak jamaah tampak larut dalam perenungan ketika beliau mengingatkan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat menghindari kematian.

Alam terakhir adalah alam akhirat, kehidupan yang kekal dan abadi. Di alam inilah seluruh manusia akan dihisab dan mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah SWT.

“Orang yang cerdas bukanlah mereka yang hanya mempersiapkan kehidupan dunia, melainkan mereka yang mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat,” lanjutnya.

Ning Aisyah juga menekankan pentingnya menghadiri majelis ilmu dan majelis taklim. Ia  mengutip hadis yang diriwayatkan dari Abu Darda’ RA:

“Sungguh, engkau berangkat lalu mempelajari satu ayat dari Kitab Allah lebih baik bagimu daripada shalat seratus rakaat. Dan sungguh, engkau berangkat lalu mempelajari satu bab ilmu, baik diamalkan ataupun belum diamalkan, lebih baik bagimu daripada shalat seribu rakaat.” (HR. Ibnu Majah)

Ia menjelaskan bahwa hadis tersebut menunjukkan betapa agungnya kedudukan ilmu dalam Islam. Ilmu merupakan cahaya yang membimbing manusia menuju jalan yang benar, sedangkan ibadah tanpa ilmu sering kali tidak menghasilkan kesempurnaan sebagaimana yang diharapkan.

“Karena itu jangan pernah merasa rugi hadir di majelis taklim. Waktu yang digunakan untuk belajar agama sesungguhnya adalah investasi akhirat yang tidak akan pernah merugi,” tuturnya.

Panjang Umur Bukan Ukuran Kemuliaan

Di penghujung tausiyahnya, Ning Aisyah menyampaikan sebuah maqalah yang mengundang perenungan mendalam seluruh jamaah.

“Jika akhir dari umur adalah kematian, maka panjang atau pendeknya usia menjadi tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah prestasi, amal saleh, dan kemanfaatan yang diberikan selama hidup di dunia.”

Sebagai contoh, ia menyebut sosok Jenderal Besar Soedirman yang wafat pada usia 34 tahun. Meskipun usianya singkat, jasa dan perjuangannya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia menjadikannya tokoh besar yang terus dikenang sepanjang sejarah bangsa.

Ning Aisyah juga menyinggung sosok Komodor Udara Halim Perdanakusuma, salah satu pahlawan pelopor Angkatan Udara Republik Indonesia yang gugur dalam menjalankan tugas perjuangan mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1947. Meski wafat di usia muda, jasa dan pengorbanannya begitu besar sehingga namanya diabadikan menjadi Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta.

“Usia bukan ukuran kemuliaan seseorang. Banyak orang hidup panjang tetapi sedikit manfaatnya. Sebaliknya, ada yang hidup singkat namun manfaat dan pengabdiannya terus dikenang sepanjang masa,” ungkapnya.

Kedalaman materi yang dipadukan dengan dalil Al-Qur’an, hadis, serta pendekatan akademik yang kuat membuat jamaah larut dalam suasana tafakur. Tidak sedikit jamaah yang tampak berkaca-kaca ketika beliau mengingatkan bahwa setiap manusia pasti akan memasuki alam barzakh dan mempertanggungjawabkan seluruh amalnya di hadapan Allah SWT.

Tausiyah yang disampaikan Ning Aisyah tersebut menjadi salah satu momen yang paling berkesan dalam rangkaian Haul Majemuk Masyarakat Babatan tahun ini. Jamaah pulang dengan membawa pesan penting bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah tujuan yang sesungguhnya (Jbr-1/AAR).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!