Di Balik Menu MBG Viral: Kualitas Tinggi atau Sekadar Pencitraan?
Jember, Portal Jawa Timur – Foto menu makanan MBG yang diunggah di akun TikTok gus.fawait mendapat sorotan publik. Gambar tersebut dengan cepat menyebar di berbagai grup WhatsApp, memantik perbincangan lintas kalangan.
Unggahan itu muncul tak lama setelah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, meresmikan SPPG Yayasan Cahaya Sholawat Nusantara di Jalan Duku, Desa Wringinagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Dalam foto yang beredar, terlihat seorang siswi memegang food tray yang telah dibuka, memperlihatkan keseluruhan menu yang tersaji.
Berbeda dari sorotan sebelumnya yang kerap menyinggung kualitas menu MBG, kali ini perhatian justru tertuju pada sajian yang dinilai “penuh kualitas.” Namun demikian, tidak sedikit pihak yang mempertanyakan konsistensi dan keberlanjutan standar tersebut. Pasalnya, nilai menu yang ditampilkan dianggap melampaui batas harga yang telah ditetapkan.
Ketua LSM Mayapadas, Sahrawi, mengungkapkan bahwa jika dihitung secara rinci, total harga menu tersebut berada di atas standar.
“Kalau saya perhatikan, harga menu di foto itu mencapai Rp13.000,” ujarnya di Jember, Jumat (17/4/2026).

Ia merinci, satu porsi terdiri dari nasi putih Rp1.500, ayam bumbu Bali dua potong masing-masing Rp2.000, selada air Rp500, mix vegetable Rp1.500, dua buah jeruk masing-masing Rp2.000, serta kacang tolo Rp2.000.
“Jika ditotal, angkanya mencapai Rp13.500,” jelasnya.
Menurut Sahrawi, meskipun tidak ada larangan menyajikan menu di atas standar harga, hal tersebut berpotensi menimbulkan persepsi yang kurang tepat di tengah masyarakat. Perbedaan kualitas antar dapur MBG bisa memicu perbandingan yang tidak sehat.
“Publik akan bertanya-tanya, mengapa yang satu terlihat baik, sementara yang lain justru sebaliknya. Kesan semacam ini yang perlu dihindari,” ujarnya.
Ia menekankan, kualitas menu tetap harus dijaga, namun tanpa melampaui batas kewajaran harga yang telah ditetapkan. Terlebih jika penyajian yang lebih tinggi tersebut hanya bersifat seremonial, untuk menyambut kedatangan Kepala BGN, misalnya.
“Tidak perlu berlebihan, apalagi jika hanya untuk menyambut tamu. Selain tidak mendidik, hal itu juga bisa memunculkan kecurigaan di tengah masyarakat,” pungkasnya (Jbr-1/tim).



