Buka Sarasehan, Rektor UIN KHAS Jember Sebut Kejayaan Islam Tercapai dengan 4 Hal Ini
Jember, Portal Jawa Timur – Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Prof Hepni mengemukakan bahwa kejayaan Islam dan kaum Muslimin akan dicapai dengan 4 hal. Empat hal tersebut terbukti menjadi salah satu penyangga utama bangunan kejayaan Islam di masa Kekhalifahan Bani Abbasiyah.
Baca Juga: Silfianindi, UIN KHAS Jember Juara Pop Solo di Ajang SeIBa Internasional Festival 2025
Menurut Prof Hepni, di masa Kekhalifahan Abbasiyah, terutama di saat kepemimpinan Harun Al-Rasyid, Islam benar-benar mencapai masa keemasannya, sehingga Islam menjelma sebagai Al islamu, ya’lu wala yu’la Alaihi, yaitu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggian (derajat) Islam.
Baca Juga: UIN KHAS Jember Hadirkan Duta SERASI Guna Memberikan Pelayanan yang Humanis dan Menyenangkan
“Islam dan kaum Muslimin kembali berjaya sebagaimana pada masa Bani Abbasiyah pada saat itu di mana tanda-tandanya ada 4 minimal,” ucapnya saat memberikan pengarahan dan membuka Sarasehan di Gedung BEC kompleks kampus UIN KHAS Jember, Rabu (5/11/2025).
Pertama adalah ketinggian akhlaqul karimah. Tokoh-tokoh Islam pada saat itu betul-betul menerapkan akhlak yang mulia. Akhlak ditempatkan di diatas segala-galanya.
“Ini menjadi penting ketika kita mulai tergerus oleh berbagai perkembangan, termasuk digitalisasi dan lain sebagainya agar kita tetap mempertahankan ini sebagai keunggulan kita bersama,” ucapnya.
Kedua adalah keluasan dan kedalaman ilmu pengetahuan. Saat itu sebuah peradaban baru sedang bersinar terang benderang. Kota-kotanya menjadi pusat ilmu pengetahuan yang tak tertandingi. Para ilmuwannya melahirkan inovasi-inovasi yang kelak menjadi fondasi bagi kemajuan sains modern.
“Umat Islam tidak boleh terbelakang, tidak boleh bodoh. Umat Islam harus sampai puncak. Seandainya ada S4, S5 harus tetap kita dikejar,” tambahnya.
Katanya, saat itu ketika Amerika masih terbelakang, Eropa juga masih gelap, Islam sudah menjadi pusat peradaban dunia. Luasnya ilmu pengetahuan yang ditandai oleh produksi yang luar biasa referensi-referensi klasik dan literasi-literasi yang tidak saja di bidang ilmu agama seperti Ushuluddin, Usul Fiqh, dan sebagainya, tapi juga di bidang medis.
“Di bidang medis, ada Ibnu Sina yang sampai sekarang tak tergantikan. Patung Ibnu Sina dipajang sebagai kebanggaan ilmu medis dunia, yang di pesantren hari ini sudah jarang di dikaji lagi,” jelas Prof Hepni.
Ketiga adalah kokohnya ukhuwah islamiyah. Para pemimpin Islam saat itu betul-betul solid, kokoh, dan saling menguatkan satu sama lain. Apakah tidak ada perbedaan saat itu?
“Banyak sekali tetapi perbedaan tidak menjadikan mereka berpecah, justru perbedaan membuat mereka satu sama lain fastabiqul khairat, saling berlomba dalam kebaikan,” jelasnya.
Keempat adalah kedermawanan. Para pemimpin dan para tokohnya sangat dermawan, dan saat ini mulai diarusutamakan di Indonesia, misalnya penggalakan zakat, sedekah dan sebagainya.
Kata Prof Hepni, umat Islam harus juga merebut posisi ekonomi.
“Kalau ada 9 naga, ya bilanglah ada 9 bintang. Jadi jangan hanya 9 naga yang menguasai Indonesia,” pungkasnya.
Sarasehan yang mengusung tema Pilar Moderasi Beragama di Tengah Dinamika Global tersebut menghadirkan sejumlah ulama dan akademisi sebagai narasumber. Mereka adalah KH Abdul Hakim Mahfudz (Ketua PWNU Jawa Timur), KH Muhammad Balya Firjaun Barlaman (Pengasuh Pondok Pesantren Ash-Shiddiqi Putra, Talangsari Kaliwates Jember), KH Rosyidi Baihaqi (Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Kalisat), KH Abdullah Syamsul Arifin (Ketua Lembaga Dakwah PBNU), Prof. Masykuri Bakri (Guru besar UNISMA), KH A. Syadid Jauhari (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Kencong).
Sarasehan itu merupakan agenda terakhir dari rangkaian Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025 yang dihelat UIN KHAS Jember. Kick off rangkaian peringatan HSN 2025 dimulai tanggal 12 Oktober 2025, dan ditutup dengan Sarasehan kali ini. Total ada 17 kegiatan yang telah digelar guna memeriahkan peringatan HSN 2025 (Jbr-1/AAR).



