Pendidikan

A’imatul Masruroh, Sang Peraih IPK Tertinggi PGMI Universitas Islam Jember, Ini Rahasianya

Jember,  Portal Jawa Timur – A’imatul Masruroh, layak berbangga dan dibanggakan. Pasalnya, dialah peraih IPK tertinggi (3,87) di antara mahasiswa prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Jember (UIJ) yang mengikuti yudisium di aula Miftahul Ulum, Kamis (22/5/2025).

Baca Juga: Dekan Fakultas Tarbiyah UIJ: Jadilah Pribadi yang Excellent dan Impact Full

Tentu bukan hal gampang untuk meraih IPK tinggi. Selain butuh keseriusan dan ketekunan belajar juga butuh  dorongan agar semangat berpacu untuk menjadi yang terbaik, terus muncul.

Baca Juga: Prodi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Islam Jember Raih Akreditasi Baik Sekali

“Kebetulan teman-teman saya di PGMI pinter-pinter, dari situ saya tertantang untuk terus belajar,” ujarnya di Jember, Ahad (25/5/2025).

A’im, sapaan akrabnya, lahir di Jember 17 Juli 2001. Ia asli warga Desa Tamansari Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember. A’im adalah anak kedua dari 3 bersaudara pasangan Suryadi Setyawan dan Nurul Khotimah.

Ia masuk UIJ tahun 2021. Setiap hari ia mengendarai motor sejauh 31 kilometer ke kampus UIJ 1, Jalan Nusantara, Kelurahan Kaliwates Kidul, Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember.

“Saya pikir lebih enak naik motor, gak terlalu jauh kok kampusnya (UIJ),” ucapnya.

A’im masuk UIJ pas Corona-19 lagi gawat-gawatnya menghantam Jember. Selama terjadi Corona-19, kata A’im, terjadi fenomena sosial yang cukup merisaukan: banyak terjadi pernikahan dini. Bagi, A’im pernikahan dini  tidak prospektif.

“Karena itu saya bertekad harus tetap semangat belajar, hingga akhirnya memilih kuliah di UIJ,” jelasnya.

Di kampus UIJ, teman-teman bergaul A’im di prodi PGMI, banyak yang cakap, pintar.

Bagi A’im, ini sangat bermanfaat dan menjadi motivasi bagi dirinya untuk terus belajar agar tidak ketinggalan dari teman-temannya.

“Bukan saya pilih-pilh teman, tapi teman memang harus dipilih karena pergaulan sangat berpengaruh dalam kehidupan,” jelasnya.

Dari lingkup pergaulan yang kondusif dan belajar yang tak pernah lelah, akhirnya mengantarkan A’im meraih IPK tertinggi, 3,87.

Ia mengaku bangga bisa meraih IPK tertinggi, namun yang lebih membanggakan dirinya adalah lulus dari kampus hijau: perguruan tinggi berbasis Ahlussunnah wal Jama’ah.

“Dan di sanalah nanti kita akan mengabdi,” pungkasnya (Jbr-1/AAR).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!