Piala Dunia 2026 dan Memori Kejayaan Andalusia: Menelusuri Warisan Peradaban Islam di Spanyol
Oleh: Dr. Aisyah Ajhury Al Hasani, M.Pd.I
Ketika Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia FIFA 2026, dunia menyaksikan sebuah bangsa kembali menorehkan prestasi di panggung olahraga internasional. Sorak kemenangan menggema dari stadion hingga berbagai belahan dunia, mengukuhkan Spanyol sebagai kampiun sepak bola dunia. Namun, di balik euforia itu, terdapat sebuah dimensi sejarah yang jauh lebih tua dan lebih agung. Bagi para sejarawan dan pemerhati peradaban, nama Spanyol bukan sekadar identitas sebuah negara modern, melainkan pintu masuk untuk mengenang Andalusia—wilayah yang pernah menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.
Tentu, kemenangan di lapangan hijau tidak memiliki hubungan sebab-akibat dengan kebangkitan Islam. Akan tetapi, setiap kali nama Spanyol kembali bergema di panggung dunia, ingatan sejarah seakan mengajak kita menoleh kepada masa ketika negeri itu melahirkan ulama, ilmuwan, filsuf, dokter, astronom, dan sastrawan yang memberi sumbangan besar bagi kemajuan peradaban manusia. Dalam perspektif inilah, kemenangan Spanyol menjadi momentum reflektif untuk membaca kembali jejak kejayaan Andalusia.
Sejarah mencatat bahwa sejak tahun 711 M, setelah ekspedisi yang dipimpin Thariq bin Ziyad menyeberangi Jabal Thariq (Gibraltar), Andalusia berkembang menjadi salah satu pusat peradaban Islam paling maju. Selama hampir delapan abad, hingga berakhirnya Kesultanan Granada pada tahun 1492 M, wilayah ini menjelma sebagai ruang perjumpaan ilmu pengetahuan, agama, seni, dan kebudayaan yang melahirkan transformasi besar dalam sejarah dunia.
Kota-kota seperti Qurthubah (Córdoba), Gharnathah (Granada), Isybiliyah (Sevilla), dan Thulaithulah (Toledo) menjadi pusat pendidikan yang menarik para pencari ilmu dari berbagai penjuru. Di Córdoba berdiri perpustakaan-perpustakaan besar yang menyimpan ratusan ribu manuskrip. Universitas, rumah sakit, observatorium, serta lembaga penerjemahan berkembang pesat dan menjadi jembatan transfer ilmu dari dunia Islam kepada Eropa. Banyak sejarawan menilai bahwa salah satu fondasi kebangkitan Renaisans tidak dapat dilepaskan dari proses transmisi ilmu yang berlangsung di Andalusia.
Di antara tokoh besar yang dilahirkan bumi Andalusia adalah Imam Muhammad bin Abdullah bin Malik ath-Tha’i al-Jayyani, yang dikenal luas sebagai Imam Ibnu Malik. Beliau lahir di Jayyān (Jaén), Andalusia, sekitar tahun 600 H/1204 M. Nisbah al-Jayyani yang melekat pada namanya merupakan penegasan asal-usul beliau dari kota Jaén, bukan dari Córdoba sebagaimana sering disebut secara keliru dalam sebagian tulisan populer.
Ketika gelombang Reconquista semakin mempersempit wilayah kekuasaan Islam, Ibnu Malik meninggalkan tanah kelahirannya menuju Syam. Di Damaskus beliau tumbuh sebagai salah satu pakar bahasa Arab terbesar sepanjang sejarah Islam. Di kota itu beliau mengajar, menulis, dan membimbing para penuntut ilmu hingga wafat pada tahun 672 H/1274 M.
Nama Ibnu Malik kemudian diabadikan melalui karya monumentalnya, Al-Khulāṣah al-Alfiyyah, yang lebih dikenal sebagai Alfiyyah Ibnu Malik. Meskipun dinamai Alfiyyah—yang berarti “seribu”—kitab tersebut sebenarnya terdiri atas 1.002 bait yang merangkum kaidah ilmu nahwu dan sharaf secara sistematis. Selama lebih dari tujuh abad, karya ini menjadi rujukan utama dalam pembelajaran bahasa Arab di dunia Islam. Dari Universitas Al-Azhar di Mesir, madrasah-madrasah di Maroko, hingga ribuan pesantren di Indonesia, Alfiyyah tetap dipelajari sebagai salah satu mahakarya linguistik Islam yang belum tergantikan.
Ironisnya, tidak sedikit santri yang mampu menghafal ribuan bait Alfiyyah, tetapi tidak mengetahui bahwa pengarangnya lahir di bumi yang kini bernama Spanyol. Hal ini menunjukkan bahwa jejak Andalusia sesungguhnya masih hidup dalam tradisi keilmuan Islam, meskipun bangunan-bangunan kejayaannya telah lama menjadi bagian dari sejarah.
Ibnu Malik bukanlah satu-satunya mutiara Andalusia. Dunia juga mengenal Ibnu Rusyd (Averroes), filsuf besar yang memengaruhi perkembangan pemikiran Eropa; Abu al-Qasim az-Zahrawi, pelopor ilmu bedah modern yang karya Al-Tashrif menjadi rujukan kedokteran selama berabad-abad; Abbas bin Firnas, ilmuwan yang melakukan eksperimen awal mengenai teknologi penerbangan; serta Ibnu Hazm, ulama, ahli fikih, sejarawan, dan sastrawan yang meninggalkan ratusan karya ilmiah. Mereka membuktikan bahwa Andalusia bukan hanya wilayah kekuasaan Islam, tetapi sebuah ekosistem ilmu yang melahirkan manusia-manusia besar.
Pelajaran paling penting dari Andalusia adalah bahwa kejayaan sebuah bangsa tidak dibangun semata oleh kekuatan politik ataupun kemegahan ekonomi. Peradaban yang bertahan lama lahir dari penghormatan terhadap ilmu, kemuliaan guru, kebebasan berpikir yang bertanggung jawab, serta budaya membaca dan menulis yang hidup di tengah masyarakat. Ketika ilmu menjadi pusat kehidupan, lahirlah generasi yang mampu mengubah arah sejarah.
Bagi Indonesia, khususnya dunia pesantren, Andalusia bukan sekadar romantisme masa lalu. Setiap kali seorang santri menghafalkan Alfiyyah Ibnu Malik, mempelajari ilmu nahwu, atau mengkaji kitab-kitab turats, sesungguhnya ia sedang menyambung mata rantai keilmuan yang pernah tumbuh subur di bumi Andalusia. Sanad ilmu itu terus hidup, berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, melintasi benua dan zaman. Inilah bukti bahwa ilmu memiliki daya hidup yang jauh lebih panjang daripada kekuasaan politik.
Oleh karena itu, kemenangan Spanyol pada Piala Dunia 2026 selayaknya tidak hanya dirayakan sebagai prestasi olahraga, tetapi juga menjadi momentum untuk mengingat kembali warisan intelektual yang pernah menjadikan negeri itu sebagai pusat peradaban dunia. Yang patut dibangkitkan bukanlah romantisme kekuasaan, melainkan semangat membangun tradisi ilmu yang pernah mengharumkan nama Andalusia.
Sejarah akhirnya mengajarkan satu kenyataan yang tidak lekang oleh waktu. Trofi Piala Dunia akan berpindah dari satu negara ke negara lain, tetapi karya-karya ulama akan terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Stadion yang hari ini dipenuhi sorak kemenangan suatu saat akan sunyi, sedangkan bait-bait Alfiyyah Ibnu Malik akan tetap dilantunkan di ruang-ruang belajar, di pesantren-pesantren, dan di majelis-majelis ilmu di berbagai penjuru dunia.
Barangkali inilah makna kemenangan yang paling hakiki. Bukan sekadar mengangkat trofi yang bertahan beberapa tahun, melainkan meninggalkan ilmu yang menerangi manusia selama berabad-abad. Andalusia telah membuktikannya. Dan Imam Ibnu Malik adalah salah satu saksi agung bahwa sebuah peradaban tidak dikenang karena kemegahan istananya, tetapi karena keabadian ilmu yang diwariskannya.
Penulis adalah Dosen Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember



