News

Dunia Kehilangan Sosok Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail? Ini Penjelasan Prof Hepni  

Jember,  Portal Jawa Timur – Kehidupan keluarga Nabi Ibrahim sarat dengan hikmah dan keteladanan yang melintasi zaman. Salah satu peristiwa paling monumental adalah ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra kesayangannya, Nabi Ismail. Peristiwa agung inilah yang kemudian menjadi asal muasal ibadah kurban pada Hari Raya Idul Adha.

Baca Juga: Idul Adha dan Hajar: Keteguhan Seorang Ibu di Padang Gersang yang Diabadikan Langit

Rektor Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Prof KH Hepni Zain menyampaikan, setidaknya terdapat dua pesan besar yang terkandung dalam peristiwa tersebut.

Baca Juga: Rektor UIN KHAS Jember: Pelayanan Kampus Harus Tuntas, Bukan Sekadar Prosedur

Pertama, kesediaan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya merupakan gambaran nyata bahwa dirinya menempatkan kehendak Allah di atas segala-galanya. Bahkan ketika harus berhadapan dengan sesuatu yang paling dicintai, yakni anak kandung sendiri, Nabi Ibrahim tetap menunjukkan kepasrahan total kepada Sang Pencipta.

Menurut Prof Hepni, peristiwa itu mengajarkan bahwa ego kecil manusia harus tunduk pada ego besar, yakni nilai-nilai ketuhanan. Kemenangan sejati, kata dia, hanya akan lahir ketika manusia mampu menaklukkan sifat-sifat rendah dalam dirinya, seperti keserakahan, hawa nafsu, dan sifat kebinatangan lainnya.

“Jadi pesan yang pertama dari peristiwa itu adalah apapun yang kita cintai harus ditaruh di bawah kecintaan kita kepada Allah,” ucapnya kepada media ini di Jember, Rabu (27/5/2026).

link video terkait:

Pesan kedua yang terkandung dalam Idul Adha, lanjut Prof Hepni, adalah tentang nilai-nilai kemanusiaan dan kepekaan sosial. Sebab pada hakikatnya, Allah tidak membutuhkan darah maupun daging hewan kurban. Yang dibutuhkan adalah ketakwaan manusia, dan hal itu pun sesungguhnya kembali untuk kepentingan manusia sendiri.

Ia menjelaskan, salah satu tanda ketakwaan adalah tumbuhnya sikap dermawan dan kepedulian terhadap sesama, terutama kepada mereka yang hidup dalam keterbatasan.

“Salah satu tanda dari ketakwaan itu adalah dermawan, peka terhadap persoalan kemanusiaan,” terangnya.

Selain kisah penyembelihan Nabi Ismail, kehidupan rumah tangga Nabi Ibrahim juga menghadirkan teladan besar melalui perjuangan Siti Hajar. Ketika itu, Siti Hajar bersama bayinya, Ismail, dihijrahkan ke sebuah lembah tandus yang tidak memiliki sumber kehidupan.

Dalam kondisi bekal yang menipis, sementara bayi Ismail menangis kehausan dan air susu sang ibu mulai mengering, Siti Hajar tidak menyerah pada keadaan. Dengan penuh keyakinan dan ikhtiar, ia berlari-lari kecil antara Bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali demi mencari sumber air.

Hingga akhirnya, pertolongan Allah datang dengan cara yang tak disangka-sangka. Dari bawah telapak kaki Nabi Ismail, memancar sumber air. Dengan penuh sukacita, Siti Hajar menyambutnya sambil mengucapkan “zummi-zummi”, yang berarti berkumpullah air, lalu dikenal dengan nama zamzam hingga hari ini.

“Ada mujahadah, ada usaha yang keras, maksimal. Artinya mata air kehidupan, mukjizat, dan pertolongan Allah muncul ketika kita maksimal melakukan usaha-usaha lahiriyah,” urainya.

Prof Hepni menegaskan, dunia hari ini sangat membutuhkan sosok-sosok seperti Nabi Ibrahim yang menempatkan Allah di atas segala kepentingan duniawi. Dunia juga membutuhkan ketangguhan Siti Hajar yang tidak hanya bekerja keras dan cerdas, tetapi juga bekerja tuntas dalam menghadapi ujian kehidupan.

Di sisi lain, menurutnya, lahirnya “Ismail-Ismail baru” juga menjadi kebutuhan mendesak bagi peradaban hari ini, yakni generasi muda yang saleh, taat kepada Allah, serta berbakti kepada orang tua.

“Saya kira ini menjadi pesan penting bagi kita di tengah kehidupan yang semakin beragam di mana nilai kemanusiaan semakin hari semakin tergerus. Maka 3 hal itu jadi penyeimbang dalam kehidupan di dunia untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki,” pungkasnya (Jbr-1/AAR).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!