Di Balik Kemapanan, Arum Sabil Pilih Jalan Sunyi Menempuh Program Doktor
Jember, Portal Jawa Timur – H. Arum Sabil adalah satu dari deretan nama beken yang melanjutkan kuliah di program doktor Universitas Islam Darul ‘Ulum (Unisda) Lamongan Jawa Timur. Bahkan saat ini, ia sudah menginjak semester II Prodi Studi Islam program doktor Unisda.
Baca Juga: S3 Tak Lagi Elitis, Unisda Lamongan Hadirkan Pendidikan Doktoral Berkualitas dengan Biaya Terjangkau
Sejatinya, Arum Sabil sudah ‘tuntas’ dengan dirinya. Sebagai pengusaha yang mapan dengan status ketokohan yang mumpuni, sebenarnya Arum Sabil tidak perlu susah-susah untuk kuliah lagi.
Tapi bagi Ketua HKTI Jawa Timur ini, ilmu di atas segala-galanya karena ia yakin bahwa ilmu adalah sumber kemuliaan seseorang. Referensinya jelas: Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu.
Baca Juga: Kuota Hampir Penuh, Program S3 Unisda Lamongan Jadi Rebutan
Menempuh studi doktoral, menurut Arum Sabil, bukan sekadar upaya meraih gelar akademik. Lebih dari itu, ia memaknainya sebagai proses mendalam yang menggabungkan dimensi spiritual dan intelektual.
“Ini adalah proses menempa kesabaran, mempertajam logika berpikir, sekaligus memupuk kerendahan hati. Kita disadarkan bahwa samudera ilmu pengetahuan itu sangat luas dan belum sepenuhnya terjamah,” ujarnya di Jember, Rabu (8/4/2026).
Dalam ruang-ruang akademik, melalui kajian jurnal dan diskusi ilmiah, ia menemukan bahwa ilmu sejati lahir dari ketekunan yang tak mengenal lelah. Perbedaan pendapat, baginya, bukanlah sekat, melainkan kekayaan intelektual yang memperluas cakrawala berpikir.
“Keberhasilan dalam penelitian tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga konsistensi dan kejujuran ilmiah,” tambahnya.
Lebih jauh, Arum Sabil menegaskan bahwa gelar doktor bukanlah puncak perjalanan ilmu. Justru, itu adalah gerbang menuju tanggung jawab moral yang lebih besar. Seorang doktor dituntut untuk terus belajar, menjaga kejernihan berpikir, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Ilmu yang tinggi harus melahirkan kebijaksanaan dalam bersikap. Tanpa itu, ilmu akan kehilangan arah. Sebaliknya, kebijaksanaan sejati akan selalu bermuara pada pengabdian yang tulus kepada sesama,” tegasnya.
Pada akhirnya, bagi Arum Sabil, seluruh jenjang ilmu beserta gelar yang menyertainya hanyalah sarana. Tujuan utamanya tetap satu: pengabdian, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Itulah niat yang ia tanamkan sejak pertama kali melangkahkan kaki di kampus Unisda Lamongan, dan yang terus ia jaga hingga hari ini (Jbr-1/AAR).



