UIJ Gelar Sosialisasi dan Pelatihan Budidaya Ikan dan Sayur dalam Ember dengan Konsep Matematika untuk UMKM Muria 34, Bondowoso
Jember, Portal Jawa Timur – Dalam rangka meningkatkan kompetensi dan kreativitas masyarakat desa, khususnya UMKM Muria 34 Desa Kampung Kreatif Bondowoso, Universitas Islam Jember (UIJ) dengan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat tahun 2025 menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi, Pelatihan dan Pendampingan Budidaya Ikan dan Sayur dalam Ember Menggunakan Konsep Matematika Menuju UMKM yang Kompeten, Jumat (24/10/2025).
Baca Juga: Batikmatika Jadi Materi Praktik UTS FKIP Universitas Islam Jember
Kegiatan yang berlangsung di Desa Mrawan Kecamatan Tapen Kabupaten Bondowoso itu dihadiri oleh para anggota UMKM Muria 34, masyarakat setempat, serta narasumber dari kalangan pendidik dan praktisi, Salahuddin Al Ayubi, A. Mujib, dan Ari Septianingtyas Purwadhini.
Acara dibuka dengan sambutan Ketua UMKM Muria 34, Fatmawati. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh peserta dan narasumber atas semangat dan dukungan mereka dalam mengembangkan kreativitas desa.
“Melalui pelatihan ini, kita belajar bahwa inovasi bisa dimulai dari hal sederhana. Ember, air, dan sedikit ilmu dapat menjadi solusi ekonomi yang nyata,” ujarnya.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan inovasi dan kemandirian ekonomi masyarakat desa melalui penerapan konsep sederhana budidaya ikan dan sayur dalam ember (BUDIKDAMBER), dengan memadukan ilmu matematika dan praktik langsung di lapangan.
Materi Pertama tentang Konsep Matematika dalam Budidaya Ikan dan Sayur dalam Ember disampaikan oleh Salahuddin Al Ayyubi dengan mengusung tema Sosialisasi dan Pelatihan Budidaya Ikan dan Sayur dalam Ember Menggunakan Konsep Matematika.
Dalam paparannya, ia menjelaskan tujuan utama dari sosialisasi ini, yaitu agar masyarakat dapat memahami bahwa konsep matematika tidak hanya terbatas pada teori di sekolah, melainkan dapat diterapkan dalam kehidupan nyata, salah satunya dalam kegiatan budidaya ikan dan sayur.
Salahuddin juga memperkenalkan alat dan bahan yang perlu disiapkan untuk praktik budidaya, di antaranya:
– Timba besar atau ember untuk media pemeliharaan ikan.
– Pipa paralon untuk sirkulasi air dan aerasi sederhana.
– Bibit ikan lele dan bibit tanaman kangkung.
Melalui penjelasan ini, peserta diajak memahami bagaimana rumus perbandingan dan pengukuran sederhana dapat membantu menentukan volume air ideal, jumlah ikan per ember, dan perhitungan pakan ikan agar tidak berlebih maupun kurang.
Pada sesi ini, para ibu-ibu peserta tampak antusias dan aktif bertanya. Salah satu peserta, Ibu Siti, menanyakan:
“Kalau embernya kecil, bagaimana cara menyesuaikan jumlah lelenya, Pak?”
Salahuddin menjelaskan bahwa setiap ukuran wadah memiliki kapasitas maksimal, dan konsep perbandingan dapat digunakan untuk menentukan jumlah ikan yang ideal tanpa mengganggu pertumbuhan.
Sedangkan materi kedua tentang Budidaya Ikan Lele sebagai Solusi Ketahanan Pangan
disampaikan oleh Mujib dengan tema Sosialisasi dan Pelatihan Budidaya Lele sebagai Solusi Ketahanan Pangan Menuju UMKM yang Kompeten.
Dalam sesi ini, Mujib memberikan penjelasan praktis mengenai cara memelihara ikan lele secara efektif dan efisien. Beliau memaparkan beberapa hal penting, antara lain:
– Cara memberi makan ikan lele dengan takaran yang tepat berdasarkan berat tubuh ikan.
– Ciri-ciri ikan lele yang kekurangan pakan seperti gerakan lambat, sering muncul ke permukaan, dan warna tubuh pucat.
– Cara mengganti air kolam saat air mulai keruh, berbau, atau muncul busa — biasanya dilakukan setiap 3–5 hari sekali secara bertahap agar ikan tidak stres.
Salah satu peserta, Ibu Nurul, bertanya: “Kalau airnya keruh tapi belum waktunya ganti, apa tetap perlu diganti, Pak?”
Mujib menjawab bahwa penggantian air tidak hanya berdasar waktu, tetapi juga kualitas. Jika air sudah berbau atau ikan tampak gelisah, maka sebagian air sebaiknya segera diganti agar kondisi tetap stabil.
Menurutnya, budidaya lele bukan hanya menjadi peluang usaha, tetapi juga bentuk nyata kontribusi terhadap ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Dengan teknik sederhana, masyarakat dapat memproduksi protein hewani sehat dari pekarangan rumah sendiri.
Adapun materi ketiga tentang Menanam Kangkung dengan Metode Budikdamber
dibawakan oleh Ari Septianingtyas Purwadhini dengan topik Sosialisasi dan Pelatihan Menanam Kangkung dengan Metode Budikdamber.
Dalam paparannya, Ari menjelaskan langkah-langkah menanam kangkung dari awal dengan cara yang mudah dan ramah lingkungan. Peserta diajak langsung mempraktikkan:
1. Menyiapkan trowpul (rockwool atau media tanam) yang dibasahi air.
2. Meletakkan benih kangkung di atas trowpul, lalu dimasukkan ke pot kecil atau wadah netpot.
3. Menambahkan kain flanel yang dibasahi di bagian bawah pot sebagai penyerap air dari ember berisi ikan.
Metode ini membuat akar kangkung menjalar ke air, sehingga tanaman mendapatkan nutrisi alami dari kotoran ikan, sementara ikan lele mendapat oksigen tambahan dari akar tanaman. Ibu Ari menegaskan bahwa sistem ini menciptakan simbiosis saling menguntungkan antara ikan dan sayur, tanpa perlu pupuk kimia atau lahan luas.
Salah seorang ibu peserta, Ibu Dewi, bertanya: “Bu, kalau kangkungnya sudah tumbuh tinggi, bagaimana supaya tidak rebah ke air?”
Ari menjawab bahwa batang kangkung dapat diikat ringan menggunakan tali plastik kecil agar tetap tegak tanpa menghambat pertumbuhannya.
Penutupan Kegiatan
Kegiatan sosialisasi dan pelatihan ini diakhiri dengan serah terima alat dan bahan budidaya ikan dan sayur dalam ember, meliputi ember, pipa paralon, benih lele, bibit kangkung, serta pakan ikan. Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh para narasumber kepada perwakilan peserta UMKM Muria 34, disaksikan langsung oleh Ibu Fatmawati selaku Ketua UMKM.
Acara kemudian ditutup dengan foto bersama seluruh peserta dan panitia, menandai semangat kebersamaan serta tekad untuk terus berinovasi dalam membangun Desa Kampung Kreatif Bondowoso sebagai desa percontohan yang produktif dan berdaya saing.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa matematika, ilmu terapan, dan kreativitas lokal dapat berpadu dalam menciptakan solusi nyata bagi masyarakat, dari ember kecil, lahirlah peluang besar menuju kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan desa (Jbr-1/NOV).



