Pendidikan

Guru Besar Bukan Hanya Besar Gagasannya tapi Juga Cepat Eksekusinya

Empat Guru Besar UIN KHAS Jember Dikukuhkan

Jember,  Portal Jawa Timur – Guru besar tidak hanya identik dengan gagasan-gagasan besar, tapi juga dituntut untuk mengambil keputusan cepat dalam mengeksekusi gagasan-gagasan besarnya.

Baca Juga: UIN KHAS Jember Tanam 2.000 Pohon di KHDTK, Rektor: Kita Bangun Fakultas Kehutanan di Masa Depan

Demikian diungkapkan Rektor Universitas Islam Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Prof Hepni saat memberikan sambutan dalam Sidang Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar UIN KHAS Jember di Gedung Kuliah Terpadu (GKT), Kamis (3/6/2025).

Baca Juga: Ketua Lembaga Dakwah PBNU: UIN KHAS Jember Rumah Saya, Saya Tumbuh dari Tempat Ini

Menurut Prof Hepni, yang paling ditunggu-tunggu dari kehadiran guru besar adalah realisasi gagasan-gagasannya  agar bisa meresap dalam kehidupan masyarakat.

“Dia (guru besar) datang tentang cerita gagasan-gagasan besar dan segera mengambil keputusan untuk itu agar betul-betul berimplikasi pada masyarakat,” ucapnya.

Ia menambahkan, guru besar melambangkan transformasi dan perubahan tidak hanya dari sisi fisik tapi juga substantif. Kalau dari sisi fisik, sudah kelihatan, misalnya dari senyum dan kebahagiaan yang terpancar di wajahnya.

“Coba kita perhatikan senyum mereka (4 guru besar) sudah mulai genuine, sudah mulai murni, tatapannya juga sudah mulai orisinil,” kelakarnya.

Namun yang lebih penting dari seorang guru besar adalah perubahan substantif, yakni perubahan bagi masyarakat dengan realisasi gagasan-gagasan cemerlangnya baik dalam ranah intelektual, emosional maupun spiritual.

“Hari ini mereka sudah bertransformasi menjadi selebritas intelektual, emosional dan spiritual yang tidak hanya mabrur di bumi tapi kita harapkan juga masyhur di langit,” jelasnya.

Prof Hepni lalu menyitir kisah Nabi Syu’aib di dalam Al-Qur’an. Alkisah, salah seorang putri Nabi Syu’aib meminta ayahnya untuk mengambil Musa sebagai pekerjanya lantaran dia kuat dan dipercaya (al-qowiyyu al-amin)

Prof Hepni mengungkapkan, makna al-Qowiyyu al-amin bisa ditarik kepada watak peradaban seorang guru besar, di mana mereka dituntut untuk  berpikir besar, berjiwa besar, bermental besar, dan dapat dipercaya.

Kata Prof Hepni, Al-Qowiyyu al-amin adalah formasi yang masih relevan  untuk disematkan atau paling tidak menjadi tuntutan agar perubahan dari lektor kepala ke guru besar betul-betul memberikan dampak bagi masyarakat.

“Al-Qowiyyu al-amin adalah figur-figur yang kuat, figur tangguh, figur kompeten, dan figur profesional, pakar ahli dia,” terangnya.

Empat guru besar yang dikukuhkan tersebut adalah Prof. Sri Lumatus Sa’adah selaku guru besar bidang Ilmu Hukum Perdata Islam, Prof. Fawaizul Umam sebagai guru besar bidang Ilmu Filsafat Agama, Prof. Rafid Abbas, selaku guru besar bidang Ilmu Hadis Ahkam, dan Prof. Kasman sebagai guru besar Bidang Ilmu Hadis (Jbr-1/AAR).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!