Opini

Tafakur Tahun Baru Islam: Menyelami Epistemologi Hijrah dan Makna yang Terlupakan

Oleh : Aisyah Ajhury Al Hasani

Jika kalender Masehi diawali dengan kelahiran, maka kalender Hijriah dimulai dengan pengorbanan dan perjuangan nilai. Tahun Baru Islam 1 Muharram bukan hari kelahiran Nabi, bukan pula tonggak kemenangan. Ia bermula dari pindahnya gagasan Islam ke ruang sosial yang lebih terbuka, dari Makkah ke Madinah, dari tekanan menuju tatanan.

Lalu mengapa hijrah dijadikan sebagai awal penanggalan Islam, bukan kelahiran Nabi atau turunnya wahyu?

Jawabannya terletak pada epistemologi Islam tentang waktu: bahwa waktu dalam Islam bukan sekadar kronologi, tetapi ruang makna yang ditandai oleh momen-momen perubahan substansial.

Hijrah: Keputusan Epistemologis, Bukan Seremonial

Dalam literatur klasik, ketika Sayyidina Umar bin al-Khattab memutuskan menetapkan peristiwa hijrah sebagai titik nol kalender Islam, beliau tidak asal memilih. Ini bukan sekadar kepraktisan administratif, melainkan ijtihad epistemologis: meletakkan makna perjuangan sebagai fondasi cara umat Islam memahami waktu dan sejarah.

“الْهِجْرَةُ هِيَ فَارِقٌ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ”

“Hijrah adalah pembeda antara yang hak dan yang batil.” (HR. Ahmad)

Hijrah adalah transformasi total: bukan hanya berpindah tempat, tetapi berpindah paradigma hidup, dari bertahan menuju membangun.

Waktu dalam Pandangan Islam: Bukan Netral, Tapi Amanah

وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ خِلْفَةًۭ لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًۭا

“Dan Dia-lah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau bersyukur.” (QS. Al-Furqan: 62)

Konsep ini menunjukkan bahwa waktu dalam Islam bukan netral. Ia adalah wadah amal, cermin kesadaran, dan pengingat keterbatasan.

Hijrah sebagai Epistemologi Perubahan

Dalam kerangka pemikiran Islam, pengetahuan yang benar lahir dari transformasi batin dan sosial, bukan semata tumpukan informasi. Maka, hijrah adalah:

  1. Epistemologi Pembebasan

Nabi ﷺ meninggalkan sistem penindasan Quraisy menuju tatanan Madani. Ini menunjukkan bahwa ilmu dan iman butuh ruang yang merdeka.

  1. Epistemologi Identitas

Di Madinah, Islam bertransformasi dari keyakinan menjadi peradaban. Hijrah mengajarkan bahwa identitas bukan sesuatu yang stagnan, melainkan proyek peradaban yang terus diperjuangkan.

  1. Epistemologi Keberanian

Dalam sains, keberanian berpindah dari satu paradigma ke paradigma baru adalah lompatan pengetahuan. Dalam Islam, hijrah adalah pergeseran paradigma eksistensial, dari sekadar bertahan hidup menuju memperjuangkan hidup yang bermakna.

Hal-Hal yang Jarang Dibahas:

  1. Muharram: Bulan Haram yang Menjadi Gerbang Tahun

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًۭا فِى كِتَـٰبِ ٱللَّهِ… مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌۭ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan… di antaranya empat bulan haram.”  (QS. At-Taubah: 36)

Muharram adalah bulan suci. Tapi anehnya, sebagian umat malah menodai kesucian ini dengan hura-hura ala tahun baru lain. Padahal, dalam Islam, tahun baru dimulai dengan ketenangan, bukan ledakan suara.

  1. Kalender Hijriah: Simbol Ketundukan pada Ritus Langit

Kalender Islam mengikuti perputaran bulan, bukan matahari. Secara filsafat, ini menunjukkan bahwa Islam membentuk peradabannya bukan dari terang matahari, tapi dari cahaya rembulan yang muncul dalam gelap. Ini adalah simbol bahwa Islam menghidupkan malam dengan zikir, bukan menaklukkannya dengan pesta.

  1. Tahun Baru Islam Tak Diperingati Nabi, Tapi Diresmikan Oleh Ijtihad Umar

Banyak yang tidak tahu: 1 Muharram tidak pernah dirayakan secara khusus oleh Nabi ﷺ. Ia ditetapkan jauh setelah wafatnya Rasulullah, sebagai keputusan administratif dengan kedalaman filosofis yang luar biasa. Ini menunjukkan bahwa ijtihad umat bisa melahirkan keputusan syar’i yang fungsional dan visioner.

Penutup: Tahun Baru sebagai Momentum Tafakur

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang cerdas adalah yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)

Tahun baru Hijriah bukan sekadar angka yang bertambah. Ia adalah cermin tafakur: sejauh mana kita berhijrah dari gelapnya ego menuju terang akhlak; dari rutinitas kosong menuju makna hidup yang sadar.

“Hijrah bukan hanya peristiwa sejarah, tapi cara berpikir. Tahun baru bukan sekadar kalender baru, tapi medan baru untuk membuktikan arah hidup kita.”

Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan Dakwah serta Koordinator Pemberdayaan Perempuan Ikatan Sarjana Nahdhatul Ulama’ (ISNU) Jawa Timur

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!