Prof. Zainuri, Sosok Santri yang Jadi Guru Besar Ilmu Ekonomi Kelembagaan di Unej
Jember, Portal Jawa Timur – Prof. Dr. Zainuri, S.E., M.Si. Nama ini adalah sosok baru sebagai guru besar yang di lingkungan Universitas Jember (Unej). Ia adalah satu di antara 97 profesor aktif yang dimiliki perguruan tinggi kebanggaan Jember itu.
Baca Juga: Universitas Jember Bedah Sengkarut Pupuk Subsidi Setelah Terbitnya Perpres 6/2025
Prof. Zainuri, sapaan akrabnya, adalah sosok santri yang sejak awal menggeluti ilmu ekonomi hingga menjadi dosen, dan akhirnya meraih predikat guru besar. Sebuah predikat puncak dalam dunia akademik.
Prof. Zainuri adalah gambaran santri modern. Santri yang tak lagi terkungkung dalam pendalaman ilmu-ilmu agama tapi merambah bahkan fokus di bidang lain (ilmu ekonomi) meski akhirnya juga untuk kepentingan agama.
Sejak kelas 2 SMP, ia sudah nyantri di Pondok Pesantren Darussalam, Jember Lor Kecamatan Patrang yang diasuh oleh KH Abdusshomad, ayahanda KH Muhyiddin Abdusshomad, Rais Syuriyah PCNU Jember.
Di pesantren itulah, Zainuri muda selama 9 tahun mengabdi sekaligus menimba ilmu agama sebagai fondasi dalam meniti karier dan menjalani kehidupannya. Dan hingga kini, tabiat kesantriannya tidak pernah pudar, dan tetap mewarnai pemikiran-pemikirannya di bidang ekonomi.
“Alhamdulillah, saya diberi kesempatan oleh Allah untuk nyantri, menjadi murid beliau (KH Abdusshomad),” ucapnya suatu ketika.
Prof. Zainuri juga pernah aktif sebagai pengurus NU Cabang Jember, dan pernah menjadi Ketua LPPNU Jember. semua itu adalah satu rangkaian pengabdiannya pada NU di sela-sela meniti karier di Unej sebagai dosen.
Prof. Zainuri dikukuhkan sebagai Guru Besar, Selasa tanggal 21 Oktober 2025 di Auditorium Unej. Dalam orasi ilmiahnya, ia mengusung tema Peran Strategis Ekonomi Kelembagaan Syariah dalam Mengembangkan Industri Kreatif dan Mendorong Pembangunan Ekonomi yang Inklusif.
Sang profesor menyoroti pentingnya pendekatan ekonomi yang tidak hanya mengejar efisiensi, tetapi juga berpihak pada nilai kemanusiaan dan keberkahan. Ia menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam pembangunan ekonomi bukanlah pada kelangkaan sumber daya alam, melainkan pada kokohnya kelembagaan ekonomi yang berakar pada nilai-nilai religius.
“Tantangan terbesar dalam pembangunan ekonomi nasional dan daerah bukan terletak pada ketersediaan sumber daya alam, tetapi pada kokohnya bangunan kelembagaan ekonomi yang mengandung nilai religi,” ujarnya.
Perjalanan intelektual Prof. Zainuri diwarnai perenungan panjang terhadap teori ekonomi yang selama ini dipelajari. Ia sempat terpikat dengan pesona teori klasik dan neo klasik. Namun, di sisi lain ia menemukan banyak kelemahan di balik kecanggihannya.
“Teori-teori ekonomi tersebut masih menyisakan pertanyaan besar karena terlalu menyederhanakan perilaku manusia dengan angka-angka sehingga belum mampu menjawab persoalan mendasar seperti isu kesejahteraan, kebahagiaan, ketimpangan, dan keadilan dalam pembangunan ekonomi,” papanya.
Pengalaman akademik dan spiritual di Pondok Pesantren Darussalam Jember juga menjadi titik balik pemikirannya. Ia mulai mempertanyakan apakah teori-teori ekonomi yang selama ini dipegang benar-benar berada di jalur yang tepat. Hasil kontemplasi panjang itu membawanya pada keyakinan bahwa ekonomi kelembagaan adalah lentera baru dalam membangun sistem ekonomi yang lebih adil, kontekstual, dan berkelanjutan.
“Saya menemukan ekonomi kelembagaan sebagai lentera pembangunan ekonomi yang mengusung adat, aturan formal dan informal, serta nilai religi (Islam) sebagai penentu utama pembangunan yang inklusif,” tutur Prof. Zainuri.
Dalam penelitian yang dilakukan, Prof. Zainuri menghadirkan pendekatan ekonomi kelembagaan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dan kearifan lokal. Ia membuktikan secara empiris melalui studi terhadap UMKM kreatif di Jember bahwa pembangunan ekonomi akan efektif dan inklusif bila ditopang kelembagaan lokal yang kuat.
Pencapaian akademiknya tidak lepas dari dukungan keluarga yang selalu mendampingi dalam doa dan semangat. Hingga kini ia telah menulis lebih dari 35 artikel ilmiah, tujuh buku, serta menjadi pemateri di berbagai forum nasional dan internasional.
Dedikasi dan kiprahnya juga diakui dengan sejumlah penghargaan, termasuk The Most Inspiring Lecturer dari Dekan FEB Unej (2025) serta Satya Lancana Karya Satya 10, 20, dan 30 Tahun dari Presiden Republik Indonesia.
Bagi Prof. Zainuri, ilmu pengetahuan sejatinya harus memiliki kebermanfaatan sosial. Katanya, ilmu harus diamalkan bukan hanya diajari.
“Ilmu yang tidak diamalkan seperti pohon yang tidak berbuah,” tutupnya. (dil/elz/AAR).



