Dari Nol, Ditolak Bank, Hingga Bangkit: Perjuangan Sunyi Dapur MBG Bintoro

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makan Bergizi Gratis (MBG) Dapur Bintoro 1 dan 2 akhirnya diresmikan oleh Bupati Jember, Muhammad Fawait, pada Senin, 12 Mei 2025. Peresmian ini menyita perhatian publik, mengingat inilah SPPG MBG pertama di Jember yang dibangun oleh pihak swasta.
Namun, harapan yang sempat mengemuka itu tak langsung berbuah kenyataan. Beberapa bulan setelah peresmian, dapur tersebut belum juga beroperasi. Penyebabnya terbilang krusial: nomor ID Dapur Bintoro 1 hilang dari sistem Badan Gizi Nasional (BGN). Tanpa nomor ID, operasional dapur praktis mustahil dijalankan.
“Betapa malunya jika sampai dapur tidak beroperasi. Kalau saya jadi Pak Haji mungkin sudah stres,” ujar Widi Prasetyo, Ketua Yayasan Taman Pendidikan dan Asuhan (TPA) yang menaungi dapur MBG Bintoro 1.
Di tengah situasi itu, H. Achmad Sudiyono, pemilik dapur MBG Bintoro, tetap tenang. Ia memilih bertahan, terus berikhtiar mencari jalan keluar, hingga akhirnya nomor ID yang sempat hilang itu berhasil diperoleh kembali.
Kisah perjuangan tersebut diabadikan dalam buku Pantang Menyerah di Tengah Keterbatasan: Kisah H. Achmad Sudiyono Merintis Dapur MBG di Jember. Buku ini merekam secara utuh lika-liku perjalanan H. Achmad dalam merintis dapur MBG, sebuah proses yang jauh dari kata mudah.
Beragam persyaratan administratif dan teknis harus dipenuhi. Di sisi lain, kuota dapur MBG di Jember sejak awal sudah menjadi rebutan. Bahkan, di hampir setiap kecamatan, titik-titik lokasi dapur telah “diklaim”, meskipun bangunan fisiknya belum tentu ada.
Persoalan pendanaan menjadi tantangan paling berat. Untuk membangun satu dapur MBG, dibutuhkan biaya sekitar Rp1,5 miliar. Meski telah memiliki gedung yang siap direnovasi, keterbatasan dana memaksa H. Achmad mengajukan kredit ke bank pemerintah. Harapan sempat terbuka, namun akhirnya kandas di tengah jalan.
“Alhamdulillah, saya punya banyak teman yang baik hati,” tuturnya (hal. 7).
Dari jejaring pertemanan dan dukungan yang tulus, pembangunan dua dapur MBG Bintoro akhirnya dapat diselesaikan.
Bagi H. Achmad, dapur MBG bukan sekadar proyek, melainkan mimpi yang dirajut dari keprihatinan. Dari ruang sederhana, ia menumbuhkan harapan besar tentang hadirnya makanan bergizi gratis bagi masyarakat. Mimpi itu tidak lahir dari kelimpahan, tetapi dari kepedulian yang dirawat dengan kesabaran dan keteguhan.
Ia menapaki jalan sunyi dengan keyakinan yang kokoh, menerima penolakan sebagai jeda untuk memperbaiki niat, memanjatkan doa dalam diam, dan terus bekerja tanpa mengeluh. Kesulitan demi kesulitan justru menempa keteguhan. Keterbatasan modal, keraguan, hingga kelelahan yang tak terucap berubah menjadi pelajaran tentang ketekunan dan istikamah.
Itulah kisah pantang menyerah, tentang cahaya kepedulian yang tak padam oleh keterbatasan, hingga dari dapur sederhana itu lahir kehangatan yang mengisi perut, menguatkan jiwa, dan menumbuhkan harapan bagi banyak kehidupan.
Buku ini merupakan kumpulan dari tulisan/berita seputar dapur MBG Bintoro yang sebelumnya tayang di Portal Jawa Timur dan media online lainnya.
Buku setebal 80 halaman ini terdiri dari 3 bab berisi 33 tulisan, dua kat pengantar dan 1 ikhtisar.
Lebih dari sekadar dokumentasi, buku ini adalah pengingat bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti melangkah. Ketika niat telah bulat dan usaha terus digencarkan, setiap hambatan pada akhirnya akan menemukan jalannya untuk disingkirkan.
