Idul Adha dan Hajar: Keteguhan Seorang Ibu di Padang Gersang yang Diabadikan Langit
Oleh: Dr. Aisyah Ajhry Al Hasani
Di antara tokoh besar dalam sejarah Idul Adha, ada satu sosok perempuan yang keteguhannya melampaui zamannya: Sayyidah Hajar. Ia bukan ratu kerajaan, bukan perempuan yang hidup di istana mewah, melainkan seorang ibu yang ditinggalkan di padang tandus tanpa air, tanpa manusia, dan tanpa kepastian dunia.
Namun justru dari perempuan inilah lahir pelajaran besar tentang keberanian, ketahanan hidup, dan kekuatan tauhid.
Allah menggambarkan kondisi Makkah kala itu melalui doa Nabi Ibrahim:
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati.” (QS. Ibrahim: 37)
Bayangkan seorang wanita berada di tengah gurun Makkah yang gersang. Matahari membakar pasir. Tidak ada pepohonan. Tidak ada sumber makanan. Bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Di pelukannya ada bayi kecil bernama Ismail yang menangis kehausan.
Dalam kondisi seperti itu, manusia biasa mungkin akan marah, putus asa, atau menyalahkan keadaan. Tetapi Hajar justru bertanya kepada Ibrahim:
آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟
“Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?”
Ketika Ibrahim menjawab “iya”, maka Hajar berkata dengan keyakinan luar biasa: إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا اللَّهُ
“Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami. (HR. Bukhari)
Inilah tauhid yang hidup. Bukan sekadar diucapkan di lisan, tetapi benar-benar menjadi kekuatan jiwa.
Keteguhan Hajar membuktikan bahwa perempuan hebat tidak ditentukan oleh tempat ia hidup, tetapi oleh iman yang ia genggam. Di padang gersang sekalipun, perempuan bertauhid akan tetap mampu bertahan, bahkan melahirkan peradaban.
Perjuangan Hajar berlari antara Shafa dan Marwah bukan sekadar usaha mencari air. Itu adalah simbol bahwa seorang perempuan tidak boleh menyerah pada keadaan. Ia bergerak, berikhtiar, berdoa, dan percaya kepada Allah.
Karena itulah langkah Hajar diabadikan dalam ibadah haji sepanjang zaman.
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ
“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah bagian dari syiar Allah.” (QS. Al-Baqarah: 158)
Betapa luar biasanya seorang perempuan hingga jejak langkahnya dijadikan ritual suci umat Islam sedunia.
Refleksi Perempuan di Era Kontemporer
Hari ini banyak perempuan menghadapi “padang gersang” dalam bentuk yang berbeda, di antaranya terkait tekanan ekonomi, perjuangan membesarkan anak, menjadi ibu sekaligus pendidik, bertahan di tengah kerasnya kehidupan, hingga menghadapi lingkungan yang tidak selalu mendukung.
Namun kisah Hajar mengajarkan bahwa perempuan yang memiliki tauhid dan kesabaran akan selalu menemukan jalan kehidupan.
Allah berfirman: فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah: 5-6)
Ia mungkin lelah, tetapi tidak menyerah. Ia mungkin menangis, tetapi tidak kehilangan iman. Ia mungkin hidup sederhana, tetapi jiwanya sangat kaya.
Perempuan hebat bukan perempuan yang hidup tanpa masalah, melainkan perempuan yang tetap berdiri meski diterpa banyak ujian.
Dan sebagaimana Hajar melahirkan zamzam dari kesabaran, seringkali perempuan yang sabar juga melahirkan keberkahan besar bagi generasi dan peradaban. وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah: 155)
“Perempuan bertauhid akan tetap kuat meski hidup di padang gersang, sebab yang menopangnya bukan kemewahan dunia, melainkan keyakinan kepada Allah.”
“Hajar mengajarkan bahwa seorang ibu mampu mengubah gurun menjadi sumber kehidupan ketika hatinya dipenuhi iman dan kesabaran.”
Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan Dakwah, Ketua Jam’iyyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighah (JPPPM) Kabupaten Jember, Koordinator Pemberdayaan Perempuan Ikatan Sarjana Nahdhatul Ulama’ (ISNU) Jawa Timur



