Pendidikan

Gairah Gelar Doktor Meningkat, Unisda Lamongan Buka Karpet Merah untuk Tokoh NU

Jember,  Portal Jawa Timur –  Kebutuhan akan pendidikan tinggi kian tak terelakkan di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat. Jika dulu gelar sarjana (S1) sudah dianggap prestisius dan cukup mengantarkan seseorang menjadi dosen, kini standar itu terus bergeser. Gelar magister (S2) telah menjadi hal yang lumrah, bahkan doktor (S3) pun tak lagi dipandang sebagai capaian yang “jauh dan angker”.

Baca Juga: Dari Unisda Lamongan, Pesan Tegas: Tanpa Peningkatan SDM, Indonesia Sulit Melompat Jauh

Fenomena ini menegaskan bahwa pendidikan tinggi bukan lagi kebutuhan eksklusif kalangan akademisi seperti guru atau dosen. Tokoh masyarakat pun dituntut memiliki kapasitas intelektual yang memadai agar mampu menjawab kompleksitas persoalan publik. Perubahan zaman secara perlahan namun pasti mendorong peningkatan kualifikasi pendidikan sebagai sebuah keniscayaan.

Baca Juga: Mahfud MD Siap Guncang Unisda Lamongan, Angkat Isu Etika Akademik di Hadapan Mahasiswa S3

Menjawab tantangan tersebut, Universitas Islam Darul ‘Ulum (Unisda) Lamongan membuka peluang luas bagi masyarakat untuk menempuh pendidikan doktoral. Tidak hanya itu, kesempatan istimewa juga diberikan kepada para Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Timur melalui skema keringanan biaya.

Ketua Program Doktor Unisda, Prof. Babun Suharto, mengungkapkan bahwa biaya program doktor untuk umum ditetapkan sebesar Rp55 juta hingga lulus. Sementara itu, khusus bagi Ketua PCNU, biaya tersebut dipangkas menjadi Rp30 juta.

“Untuk umum biaya kuliah program doktor tetap Rp55 juta, sedangkan bagi Ketua PCNU hanya Rp30 juta sampai selesai,” ujarnya saat sosialisasi di sela kegiatan Halal Bihalal NU Jember di Pondok Pesantren Islam Bustanul Ulum, Ahad (19/4/2026).

Ia pun mendorong agar para Ketua PCNU dalam kurun tiga hingga empat tahun ke depan sudah menyandang gelar doktor. Namun demikian, ia menegaskan bahwa esensi utama bukan sekadar gelar, melainkan kedalaman ilmu yang akan membentuk kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

“Menuntut ilmu tidak dibatasi usia dan tempat. Mari manfaatkan peluang ini. Kami membuka pintu untuk 38 Ketua PCNU se-Jawa Timur,” tambahnya.

Untuk mendukung fleksibilitas mahasiswa, sistem perkuliahan dirancang secara hybrid, yaitu mengombinasikan tatap muka langsung dengan pembelajaran daring. Skema ini memungkinkan para profesional dan tokoh masyarakat tetap dapat menempuh studi tanpa meninggalkan aktivitas utama mereka.

“Kami tetap menjaga kualitas dan profesionalisme dalam setiap proses pembelajaran,” pungkasnya (Jbr-1/WIL).

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!