Opini

Menziarahi Tamu Allah: Harmoni Sejarah, Psikologi, dan Nilai-Nilai Tasawuf

Oleh: Dr. Aisyah Ajhury Al Hasani, M.Pd.I

Di tengah kesibukan dunia, ada satu tradisi luhur yang selalu menghidupkan rasa haru di tengah masyarakat Muslim Indonesia, yaitu ziarah kepada para jamaah haji. Tradisi ini bukan sekadar kunjungan sosial, melainkan perjumpaan batin yang sarat makna sejarah, psikologi, dan nilai-nilai spiritual.

Haji merupakan rukun Islam kelima yang hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu. Sejak masa Rasulullah ﷺ, orang yang kembali dari Tanah Suci dipandang sebagai tamu Allah yang telah menyelesaikan perjalanan ibadah paling agung. Karena itu, masyarakat menyambutnya dengan penuh penghormatan dan doa.

Secara historis, tradisi menyambut dan menziarahi jamaah haji telah dikenal sejak masa para ulama Nusantara. Ketika perjalanan menuju Makkah masih memerlukan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun melalui jalur laut, kepulangan seorang haji sering dianggap seperti kembalinya seseorang dari perjalanan yang sangat berat. Tidak sedikit yang wafat di tengah perjalanan sehingga orang yang pulang dalam keadaan selamat dipandang sebagai sosok yang memperoleh karunia besar dari Allah.

Tradisi ini juga berakar pada ajaran Rasulullah ﷺ yang menganjurkan kaum Muslimin saling mendoakan. Nabi bersabda: إِذَا لَقِيتَ الْحَاجَّ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَصَافِحْهُ، وَمُرْهُ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ، فَإِنَّهُ مَغْفُورٌ لَهُ

Apabila engkau bertemu dengan orang yang baru pulang haji, maka ucapkanlah salam kepadanya, berjabat tanganlah dengannya, dan mintalah ia memohonkan ampun untukmu, karena ia telah memperoleh ampunan.” (Diriwayatkan dalam beberapa kitab hadis dengan jalur yang diperselisihkan derajatnya, namun kandungan maknanya diamalkan oleh banyak ulama dalam bab faḍā’il al-a‘māl).

Dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ bersabda:  اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ

Ya Allah, ampunilah orang yang berhaji dan orang yang dimintakan ampun oleh orang yang berhaji.”

Hadis ini menjadi landasan mengapa masyarakat memohon doa kepada jamaah haji yang baru kembali.

Makna Psikologis Ziarah Haji

Dari perspektif psikologi, ziarah kepada jamaah haji memiliki pengaruh yang sangat positif.

Pertama, memberikan penguatan emosional. Jamaah haji baru saja melewati perjalanan fisik dan spiritual yang sangat melelahkan. Kedatangan keluarga, tetangga, sahabat, dan murid menjadi bentuk dukungan sosial (social support) yang membantu mereka mempertahankan semangat untuk terus istiqamah setelah pulang dari Tanah Suci.

Kedua, menumbuhkan motivasi religius. Bertemu dengan orang yang baru melihat Ka’bah, berwukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, dan melempar jumrah menghadirkan pengalaman batin yang menginspirasi. Banyak orang akhirnya terdorong memperbaiki ibadah, memperbanyak sedekah, bahkan mulai menabung untuk berhaji.

Ketiga, membangun memori kolektif umat. Kisah-kisah perjalanan haji yang diceritakan kepada keluarga dan masyarakat menjadi media pendidikan Islam yang hidup. Anak-anak belajar tentang Ka’bah bukan hanya dari buku, tetapi dari pengalaman nyata orang yang mereka kenal.

Keempat, menghadirkan efek spiritual melalui keteladanan. Dalam psikologi modern dikenal konsep modeling, yakni manusia cenderung meniru figur yang dihormati. Jamaah haji diharapkan menjadi teladan akhlak, kesabaran, kejujuran, dan kesederhanaan sehingga perubahan positifnya menginspirasi lingkungan sekitar.

Bunyai Nusantara Saat Ziarah Haji Bunyai Hj Athiyah Farouq di PP Al Azhar Jember

Dimensi Tasawuf

Para ulama tasawuf memandang bahwa haji sejatinya adalah perjalanan menuju Allah (as-safar ilallāh). Sementara pulang dari haji merupakan awal perjalanan baru untuk menjaga hati agar tetap dekat kepada-Nya.

Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa hakikat haji bukan hanya berpindah tempat menuju Baitullah, tetapi juga berpindah dari hati yang lalai menuju hati yang mengenal Allah (Iḥyā’ ’Ulūm ad-Dīn).

Karena itu, menziarahi jamaah haji sejatinya bukan untuk memuliakan gelarnya, melainkan mengambil cahaya pengalaman spiritual yang mereka bawa pulang.

Penutup

Ziarah kepada jamaah haji bukan sekadar budaya turun-temurun. Ia adalah tradisi yang menghubungkan sejarah Islam, memperkuat ukhuwah, mengokohkan kesehatan psikologis, dan menyebarkan semangat ketakwaan di tengah masyarakat.

Semoga setiap langkah menuju rumah seorang haji menjadi langkah menuju ridha Allah, setiap doa yang dipanjatkan menjadi sebab turunnya keberkahan, dan setiap kisah dari Tanah Suci menjadi pelita yang menerangi perjalanan iman kita.

“Orang yang pulang dari Baitullah membawa oleh-oleh paling berharga bukan sekadar air zamzam atau kurma, melainkan hati yang telah belajar mencintai Allah. Dan orang yang menziarahinya sejatinya sedang belajar agar suatu hari dipanggil menjadi tamu-Nya.”

Penulis adalah Dosen Sastra Arab Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUAH) UIN KHAS Jember

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!