Pendidikan

Termotivasi Keadaan Ekonomi Orang Tua, Wike Raih IPK 4 di Wisuda UIJ 2025

Jember,  Portal Jawa Timur – Wike Dwi Prastista. Ia layak berbangga dan dibanggakan. Pasalnya, dia meraih IPK 4. Nilai sempurna dan tertinggi di antara 395 wisudawan Universitas Islam Jember (UIJ) yang digelar di New Sari Utama Convention Hall, Sabtu (31/5/2025).

Baca Juga: Hadiri Wisuda UIJ, Mensos Gus Ipul: Kemiskinan Bukan Takdir tapi Tantangan yang Bisa Dikalahkan

Dara kelahiran Jember 2 Mei 2002 ini, mengaku sama sekali tidak bermaksud meraih IPK tertinggi dalam belajar. Yang ada di benaknya adalah keinginan agar kuliah cepat selesai.

Baca Juga: Hadiri Wisuda UIJ, Gus Ipul: Dari Kampus Ini untuk Indonesia

“Ini terkait dengan biaya dan orang tua juga,” ujarnya kepada Portal Jawa Timur usai wisuda.

Wike mendapat beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP). Pembiayaan kuliah dari KIP akan dikucurkan hingga semester 8. Tidak bisa lebih. Karena itu, Wike bertekad agar kuliahnya tidak lebih 8 semester, sehingga biayanya full dari KIP.

Dengan tekad itu, Wike bisa menyelesaikan kuliah di pertengahan semester 8, dengan durasi 3, 6 bulan 12 hari. Sehingga Wike termasuk lulus tercepat sekaligus tertinggi IPK-nya.

Alhamdulillah akhirnya selesai tepat waktu,” jelasnya.

Menurut Wike, yang paling memotivasi dirinya untuk kuliah dengan sungguh-sungguh adalah keadaan ekonomi orang tuanya yang pas-pasan.

Dana KIP hanya cukup untuk uang kuliah dan wira-wiri dari rumahnya di Desa Gumelar Kecamatan Balung ke kampus UIJ. Kekurangannya Wike harus mencari uang sendiri untuk keperluan sehari-hari.

“Saya pernah kerja di toko selama 2 tahun sambil kuliah, dan juga membuka les privat,” tambahnya.

Wike lahir dan besar dari keluarga sederhana, atau tepatnya pas-pasan. Ia adalah anak kedua dari 5 bersaudara. Masih banyak saudara-saudaranya yang membutuhkan biaya, sedangkan pekerjaan orang tuanya tidak menentu.

Kondisi tersebut membuat semangat Wike membara untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu agar tidak membebani kedua orang tuanya.

“Saya ingin cepat selesai kuliah agar bisa cepat kerja untuk membantu orang tua,” tekadnya.

Wike mengaku kagum terhadap orang tuanya. Kendati ekonominya pas-pasan, namun tak pernah menyerah pada keadaan. Wike sendiri saat lulus SMA, sudah tak begitu berminat untuk kuliah, maunya mencari kerja saja. Hingga penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri ditutup, Wike tak juga tertarik untuk kuliah.

Namun sang ibu terus mendorong Wike agar kuliah. Soal biaya, apa kata nanti.

“Karena itu waktu itu perguruan tinggi negeri sudah tutup, saya memilih UIJ,” ungkapnya.

Wike memilih prodi Administrasi negara di FISIP. Ini juga tak lepas dari pertimbangan pekerjaan. Sebab, katanya, peluang kerja lulusan administrasi negara cukup banyak.

“Ya bismillah,saya masuk UIJ, dan  jadilah seperti sekarang ini,” jelasnya.

Wike merasa cocok di UIJ. Suasananya penuh keakraban, dan agamis. Dan mata kuliah agama juga menjadi kekuatan tersendiri bagi Wike.

“Dari sinilah saya belajar ilmu sekaligus kehidupan,” katanya.

Wike kini menatap masa depan. Bekal ilmu dan akhlaq dari UIJ, tentu menjadi modal untuk menyongsong hidup yang lebih baik. Hidup yang baik memang harus disongsong, bukan dibiarkan, apalagi pasrah pada keadaan (Jbr-1/AAR).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!