Editorial

Kepala Disnaker Jember: Idealnya Bekerja di Luar Negeri Bukan Pilihan Utama

Jember,  Portal Jawa Timur – Idealnya bekerja di luar negeri bukan pilihan utama. Pasalnya, bekerja di negeri rantau rawan tertimpa risiko. Cukup banyak yang mesti dipertimbangkan, bukan semata-mata gaji yang selangit, tapi juga ketenteraman, bahkan keselamatan jiwa.

Namun ada yang cukup melegakan terkait dengan fenomena Pekerja Migran Indonesia (PMI), khususnya di Jember, yakni kurangnya minta warga untuk menjadi PMI alias bekerja di luar negeri. Paling tidak, hal ini tergambar dalam acara Kegiatan Diseminasi Perlindungan Calon Pekerja Migran Indonesia/Pekerja Migran Indonesia di Pendapa Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Iklim Usaha di Jember Kondusif, 2.000 Lebih Lowongan Kerja Tersedia

Dalam kegiatan yang mempertemukan Calon PMI dan PMI dengan perwakilan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur tersebut, Kepala Disnaker Kabupaten Jember Suprihandoko sempat melontarkan pertanyaan terkait minat warga untuk bekerja di luar negeri.

Baca Juga: Susah Dapat Tenaga Kerja yang Kompeten, Investor di Jember Mengeluh, Bahkan Ancam Hengkang

“Jawaban mereka para PMI yang sudah pulang kampung, mereka bilang sudah tak mau bekerja di luar negeri lagi. Tidak hanya mantan PMI, anak-anak dan saudara-saudaranya juga tidak minat untuk kerja di luar negeri,” ungkap Handoko, sapaan akrabnya, di Jember, Kamis (4/7/2024).

Menurutnya, hal tersebut cukup melegakan. Sebab menjadi PMI atau tepatnya kerja di luar negeri sudah bukan pilihan utama. Berarti mereka lebih menmilih bekerja di Jember atau daerah lain di luar Jember.

Handoko menambahkan, faktor ketidak berminatan mereka untuk menjadi PMI bisa disebabkan lantaran ketidaknyamanan bekerja di negeri rantau, jauh dari keluarga dan beragam alasan lainnya.

“Kalau bicara hasil, banyak yang sukses (kerja di luar negeri), tapi jangan lupa banyak juga yang tidak sukses, bahkan berakhir celaka,” jelasnya.

Pemkab Jember Siap Fasilitasi PMI

Namun bagaimanapun, lanjut Handoko, Pemkab Jember berkewajiban menyiapkan fasilitas sekaligus memberikan perlindungan bagi warganya yang menjadi PMI. Fasilitas itu antara lain menyiapkan pelatihan keterampilan bagi calon PMI, dan memberikan perlindungan bagi PMI. Termasuk segala tetek bengek proses menjadi PMI hingga sampai di luar negeri, biayanya nol rupiah.

“Kami menyiapkan fasilitas pelatihan dan sebagainya, jangan diartikan kami menyuruh orang kerja di luar negeri.  Idealnya menjadi PMI bukan pilihan utama. Sebab, sebaik-baik pekerjaan tetap di daerahnya sendiri,” katanya.

Bekerja di luar negeri mestinya bukan pilihan utama. Bagaimanapun, hujan emas di negeri orang, masih lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Pekerjaan yang gampang di luar negeri dengan gaji selangit memang cukup menggiurkan. Namun risikonya juga besar. Tidak digaji, disekap, disiksa majikan, menjadi buronan polisi, dideportasi, bahan pulang tanpa nyawa adalah cerita kelam yang kerap mewarnai balada PMI, lebih-lebih yang ilegal (Jbr-1/AAR).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button