Opini

Isyarah Tongkat dan Tasbih Syaikhona Kholil: Simbol Kepemimpinan Ruhani dan Kesadaran Ilahiyah

Oleh: Dr. Aisyah Ajhury Al Hasani

Dalam tradisi ulama salaf, benda-benda yang melekat pada diri seorang wali bukan sekadar alat lahiriah, melainkan isyarah maknawiyah—simbol sunyi yang menyimpan pesan ruhani lintas generasi. Demikian pula tongkat dan tasbih yang dikenal sebagai bagian dari laku spiritual Syaikhona Kholil Bangkalan, figur sentral dalam mata rantai kebangkitan ulama Nusantara.

Isyarah tersebut tidak lahir dari ruang mitos, tetapi dari tradisi keilmuan yang sadar simbol, di mana pesan besar seringkali disampaikan tanpa kata-kata, namun dipahami utuh oleh jiwa-jiwa yang telah matang secara spiritual.

Tongkat: Isyarah Amanah dan Keteguhan Jalan

Tongkat dalam khazanah kenabian dan kewalian bukan simbol kekuasaan, melainkan penopang amanah. Al-Qur’an mengabadikan dialog Nabi Musa tentang tongkatnya sebagai alat tawakkal dan kemanfaatan, bukan dominasi: قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ

“Ia berkata: Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku gunakan untuk menggugurkan daun bagi kambingku, dan bagiku dengannya ada berbagai keperluan lain.” (QS. Ṭāhā: 18)

Dalam konteks inilah tongkat Syaikhona Kholil dimaknai. Melalui KH. As‘ad Syamsul Arifin, tongkat itu diutus lebih dahulu kepada KH. Hasyim Asy‘ari. Ia bukan hadiah, melainkan isyarah awal—dorongan ruhani agar amanah besar umat tidak dihindari, sekaligus penegasan bahwa jalan keulamaan selalu menuntut keteguhan.

Tongkat itu seolah berkata: ilmu besar membutuhkan keberanian memikul tanggung jawab sejarah.

Tasbih: Peneguhan Batin Setelah Istikharah

Berbeda dengan tongkat, tasbih tidak dikirim bersamaan. Ia datang kemudian—setelah proses batin, setelah istikharah panjang, setelah kegelisahan seorang alim yang sedang menimbang masa depan umat. Justru di sinilah kedalaman isyarah itu tampak.

Tasbih dikirim sebagai jawaban ilahiyah yang tenang, bukan dorongan tergesa. Ia menjadi peneguh bahwa amanah besar tidak cukup disangga oleh keteguhan lahir, tetapi harus dijaga oleh disiplin zikir dan kejernihan hati.

Allah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Aḥzāb: 41)

Tasbih itu bukan sekadar alat hitung, melainkan simbol penjagaan waktu dan kesadaran diri. Dalam tasbih tersimpan pesan halus: siapa yang sibuk menyebut nama Allah, tidak akan sempat menyebut keagungan dirinya sendiri.

Dua Tahap, Satu Manhaj

Dengan demikian, tongkat dan tasbih bukan dua simbol yang berdiri sendiri, melainkan dua tahap dalam satu manhaj kepemimpinan ruhani. Tongkat datang lebih dulu sebagai tanda kesiapan memikul amanah umat; tasbih menyusul sebagai pengingat agar amanah itu tidak tercerabut dari dzikrullah.

Inilah keseimbangan yang diwariskan Syaikhona Kholil: gerak tanpa lupa sujud, peran tanpa kehilangan tunduk.

Sebagaimana kaidah para arifin: مَنْ صَلُحَ بَاطِنُهُ صَلُحَ ظَاهِرُهُ “Barangsiapa baik batinnya, maka baik pula lahirnya.”

Tongkat tanpa tasbih melahirkan kekerasan. Tasbih tanpa tongkat melahirkan pelarian. Tetapi keduanya yang datang pada waktunya melahirkan ulama pewaris nabi—tegas dalam prinsip, jernih dalam batin.

Penutup

Isyarah tongkat dan tasbih Syaikhona Kholil bukan romantisme sejarah, melainkan etika keulamaan. Di tengah zaman yang gemar memamerkan simbol, beliau justru mengajarkan makna tanpa perlu banyak penjelasan.

Tongkat mengajarkan kita untuk tegak memikul amanah. Tasbih mengajarkan kita untuk tetap tunduk di hadapan Allah.

Dan dari keseimbangan inilah, lahir mata rantai ulama Nusantara dalam bingkai Nahdhatul Ulama’, bukan karena ambisi, melainkan karena ketundukan yang jujur kepada Ilahi.

Penulis adalah praktisi pendidikan dan dakwah dan Koordinator Pemberdayaan Perempuan Ikatan Sarjana Nahdhatul Ulama’ (ISNU) Jawa Timur dan Ketua JPPPM (Jam’iyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighah) Kabupaten Jember

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!