Opini

Isra’ Mi’raj: Perjalanan Langit yang Menata Kehidupan di Bumi

Oleh : Dr. Aisyah Ajhury Al Hasani, M.Pd.I

Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa luar biasa dalam sejarah kenabian, tetapi titik penting yang menyingkap cara Allah mendidik manusia. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang bagaimana iman dibangun, bagaimana akal diarahkan, dan bagaimana hidup ditata agar tidak kehilangan orientasi.

Allah Swt. berfirman:

سُبْحَانَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًۭا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ (QS. al-Isrā’: 1)

Ayat ini dibuka dengan tasbih, seakan Allah ingin menegaskan sejak awal bahwa peristiwa ini tidak bisa ditimbang sepenuhnya dengan ukuran biasa. Yang menarik, Rasulullah Saw. disebut dengan ‘abdihī—hamba-Nya.

Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa penyebutan “hamba” justru muncul pada saat Nabi mencapai maqam tertinggi. Ini isyarat halus bahwa kedudukan paling mulia di sisi Allah bukan karena keistimewaan, tetapi karena kesempurnaan penghambaan.

Isra’: Mengingat Arah Sejarah

Perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha bukan tanpa maksud. Masjidil Aqsha adalah simbol panjangnya perjuangan tauhid, tempat para nabi berdiri dalam satu barisan risalah.

Fakhruddin ar-Razi dalam Mafātīh al-Ghaib menyinggung bahwa sebelum Rasulullah SAW. dinaikkan ke langit, beliau lebih dulu “dipertemukan” dengan jejak kenabian dan sejarah umat. Seakan ada pesan: kedalaman spiritual tidak boleh terlepas dari kesadaran sejarah dan tanggung jawab kemanusiaan.

Ibadah yang benar tidak menjauhkan seseorang dari kehidupan, justru membuatnya lebih jernih dalam menyikapi hidup.

Mi’raj dan Makna Shalat

Dalam Mi’raj, Rasulullah Saw. sampai pada titik tertinggi, namun yang dibawa pulang ke bumi bukan cerita langit, melainkan perintah shalat. Ini menunjukkan betapa shalat menjadi pusat kehidupan beragama.

Allah Swt. berfirman: إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَٰبًۭا مَّوْقُوتًۭا (QS. an-Nisā’: 103)

Shalat mengajarkan ketertiban waktu, ketenangan jiwa, dan kedisiplinan batin. Karena itu para ulama sering mengungkapkan kalimat: الصَّلَاةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِ

Ungkapan ini dinukil oleh Imam al-Ghazali dalam Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn sebagai penjelasan makna, bukan sebagai hadis. Maksudnya jelas: shalat yang hidup akan mengangkat ruh manusia, sebagaimana Mi’raj mengangkat Rasulullah Saw.

Iman yang Tidak Gaduh

Setelah peristiwa Isra’ Mi’raj, tidak sedikit orang yang ragu dan mencibir. Namun Abu Bakar ash-Shiddiq mengambil sikap yang berbeda. Ketika mendengar kisah itu, beliau berkata: إِنْ كَانَ قَالَ ذَلِكَ فَقَدْ صَدَقَ

“Jika beliau yang mengatakannya, maka itu benar.”

Pernyataan ini dicatat oleh para ahli sirah seperti Ibnu Hisyam dan al-Baihaqi. Karena sikap inilah Abu Bakar mendapat gelar ash-Shiddiq, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir.

Iman semacam ini tidak berisik, tidak sibuk berdebat, tetapi tenang karena bersandar pada kejujuran Rasulullah SAW.

Bersama Nawaning PP Salafiyah Bangil

Penutup

Isra’ Mi’raj mengajarkan satu hal penting: semakin tinggi seseorang mendekat kepada Allah, semakin besar tanggung jawabnya dalam hidup. Rasulullah Saw. tidak berhenti di langit, tetapi kembali ke bumi untuk membimbing umat.

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah pernah mengingatkan bahwa rusaknya amal sering kali berawal dari rusaknya shalat. Sebaliknya, ketika shalat terjaga, hidup pun perlahan menemukan tertibnya.

Maka Isra’ Mi’raj bukan sekadar kisah untuk dikenang setiap tahun, melainkan pelajaran tentang bagaimana iman dijaga, ibadah dihidupkan, dan kehidupan diarahkan.

Penulis adalah praktisi pendidikan dan dakwah, Koordinator Pemberdayaan Perempuan Ikatan Sarjana Nahdhatul Ulama’ (ISNU) Jawa Timur,  dan Ketua JPPPM (Jam’iyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighah) Kabupaten Jember

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!