Ekspansi Armada TMAS vs Penurunan Laba: Taruhan Besar di Tengah Ketidakpastian Pertumbuhan Ekonomi 2026
Oleh : Sitti Arifatul Hasanah

PT Temas Tbk (TMAS) sedang menghadapi dilema strategis. Di satu sisi, perusahaan melakukan ekspansi armada secara agresif, namun di sisi lain laba bersih justru mengalami penurunan signifikan. Data menunjukkan laba bersih turun dari Rp783 miliar pada tahun 2023 menjadi Rp673 miliar pada tahun 2024, dan kembali merosot ke Rp487 miliar pada tahun 2025. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas strategi ekspansi di tengah ketidakpastian ekonomi.
Jika dihitung secara persentase, penurunan laba dari 2023 ke 2024 mencapai sekitar -14%, sedangkan dari 2024 ke 2025 penurunan lebih tajam yakni -27,6%. Secara kumulatif, laba bersih TMAS menyusut sekitar -37,8% dalam dua tahun terakhir. Angka ini menunjukkan tren yang cukup mengkhawatirkan, terutama bagi investor yang menilai perusahaan dari stabilitas profitabilitasnya.
Menurut pandangan saya, penurunan laba ini tidak lepas dari biaya ekspansi yang besar. Pembelian kapal baru, biaya perawatan, kenaikan harga bahan bakar, serta fluktuasi nilai tukar menjadi faktor utama yang menekan margin keuntungan. Selain itu, perlambatan ekonomi global turut mengurangi volume perdagangan, sehingga utilisasi armada tidak optimal. Dengan demikian, ekspansi yang diharapkan menjadi motor pertumbuhan justru sementara ini menjadi beban finansial.
Meski demikian, ekspansi armada tetap memiliki nilai strategis. Dengan kapasitas yang lebih besar, TMAS berusaha memposisikan diri sebagai pemain utama yang siap menangkap peluang ketika ekonomi kembali pulih. Armada yang lebih luas memberi fleksibilitas untuk membuka rute baru, memperluas pasar, dan meningkatkan daya tawar terhadap klien besar. Artinya, meskipun laba jangka pendek tertekan, terdapat potensi keuntungan jangka panjang.
Dari perspektif investor, saham TMAS saat ini berada dalam posisi yang ambigu. Penurunan laba membuat saham ini kurang menarik bagi investor jangka pendek. Namun, bagi investor jangka panjang yang berani mengambil risiko, ekspansi armada dapat dipandang sebagai investasi masa depan. Dengan kata lain, saham TMAS lebih cocok bagi mereka yang memiliki horizon investasi panjang dan toleransi risiko tinggi.
Ada investor yang bertanya Apakah saham TMAS menjanjikan ke depan? Jawabannya tergantung pada kondisi makroekonomi dan kemampuan manajemen mengendalikan biaya. Jika ekonomi global dan domestik kembali tumbuh, permintaan jasa pelayaran akan meningkat dan TMAS dengan armada besarnya berpotensi menjadi pemenang. Sebaliknya, jika perlambatan berlanjut, beban biaya ekspansi akan semakin menekan laba, sehingga saham ini kurang menarik.
Penulis adalah Mahasiswi Ekonomi Syari’ah Universitas Islam Jember (UIJ)



